Pemuda Blitar Mengaku Jadi Korban Perdagangan Orang, Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja

© mili.id

Pengacara Publik LBH Surabaya, Habibus Solihin di Mapolda Jatim (Foto: Wendy/mili.id)

Surabaya - Pemuda asal Blitar berinisial I (22) diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja.

Pengacara Publik LBH Surabaya, Habibus Solihin mengatakan, kliennya mengaku dipaksa menjadi scammer atau melakukan penipuan secara online.

Pihaknya menerima aduan dari korban pada 5 hari lalu. Kasus itu oleh timnya telah dilaporkan ke Polda Jatim, Kamis (20/6/2024).

Laporan tersebut tertuang dalam Nomor Laporan Polisi: LP/B/322/VI/2024/SPKT/POLDA JAWA TIMUR tanggal 20 Juni 2024 pukul 13.00 WIB.

"Hari ini kami datangi Polda Jatim untuk melapor dugaan TPPO oleh perorangan, terlapor orang Blitar. Hari ini kami sudah datangi Ditreskrimum untuk BAP sementara. Untuk selanjutnya jadi LP (laporan polisi)," ungkap Habibus Solihin.

Dugaan TPPO yang dialami I bermula waktu korban tengah mencari pekerjaan. Kabar itu kemudian didengar oleh A sebagai terlapor dalam kasus ini. Habib menyebut, A kemudian mendatangi rumah I untuk menawarkan pekerjaan sebagai admin perusahaan di luar negeri.

Tanpa pikir panjang, korban yang membutuhkan pekerjaan itu akhirnya langsung tertarik. Apalagi A menjelaskan bila gaji yang akan diterima senilai Rp17 juta sebagai admin perusahaan di Kamboja.

"Dia (A terlapor) datang ke rumah langsung. Kemudian diiming-imingi gaji tinggi sekitar Rp17 juta, pekerjaannya hanya admin, yang dijanjikan pertama jadi admin di perusahaan marketplace," ungkapnya.

Namun, pekerjaan yang dijanjikan A tidak sesuai. Korban justru merasa dijebak dan bekerja di perusahaan yang memperkejakan karyawannya menjadi scammer. Bahkan lokasi perusahannya berada di pelosok yang jauh dari perkotaan.

I kemudian terpaksa menjalani pekerjaan yang tidak sesuai keinginannya itu selama sebulan. Bahkan korban tidak diperbolehkan pergi secara bebas, dan dipaksa tinggal di perusahaan itu.

Beruntung, I masih bisa bebas mengakses telepon. Korban memanfaatkan hal itu untuk membuat laporan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kamboja, bahwa ia menjadi korban dugaan TPPO.

"Sampai di Kamboja sana ada praktik penipuan online atau scaming. Di sana dia bekerja sekitar satu bulan. Karena tidak sesuai yang dijanjikan, dia buat laporan ke KBRI," jelasnya.

Laporan korban langsung direspon pihak KBRI. Kemudian mereka berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk menjemput I. Korban berhasil pulang dan tiba di Indonesia pada Sabtu (15/6/2024).

"Lalu dijemput polisi sana. Setelah sampai polisi pusatnya dipulangkan naik pesawat ke Indonesia," ungkapnya.

Habib menyatakan, kliennya itu tidak sampai mendapat ancaman atau intimidasi dari pihak perusahaan. Meski begitu, ia berharap supaya pemerintah lebih memberi perhatian dan imbauan bagi masyarakat yang ingin menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

"Tapi perlindungan terhadap PMI yang sebetulnya korban penipuan yang terlanjur ada di negara orang dan harapan kami agar pemerintah menindak tegas (pelakunya)," pinta dia.

Sementara I mengaku sudah dua kali ini tertipu menjadi PMI. Pertama ia berangkat ke Singapura yang mulanya mendapat tawaran jadi admin, justru menjadi kuli bangunan.

Korban menyebut, perusahaan tempat ia dipekerjakan sebagai scammer di Kamboja itu masih ada orang Indonesia kurang lebih sekitar 50 orang, selain dirinya.

"Saya kerja di Kamboja sekitar satu bulan 15 harian. Orang Indonesia yang sama di perusahaan ada sekitar 50 sampai 60-an orang," ungkapnya.

I menyebut, PMI lain tidak sama seperti dirinya yang bisa mengakses ponsel. Bahkan ada yang paspornya sampai ditahan pihak perusahaan penipuan tersebut.

"Saya berharap pihak-pihak yang ada di sana lebih intens memperhatikan orang-orang di Kamboja sana dalam tanda kutip terkena TPPO, agar tidak bingung mau ke mana mau lapor ke siapa. Soalnya teman-teman di sana juga ada yang mengalami kekerasan," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait