Pengamat: Santri Penyanggah Kebangsaan, Aktulisasi Diri Tanpa Sekat Sektarian

© mili.id

Hariyono Kohar

Mili.id - Salah satu unsur komunitas bangsa Indonesia yang kuat, dan secara resmi mendapat tempat dalam kebangsaan Indonesia, adalah kaum santri.

Begitu urai pengamat pergerakan kebangsaan Indonesia, Haryono Kohar memaknai perayaan hari santri nasional (HSN) 2022, kepada Mili.id

Menurutnya, kaum santri sebagai salah satu penyanggah kebangsaan negeri ini. Sebab, tidak lepas dari penerimaan mereka, bagi muslim lain yang cenderung sekuler, atau dicap abangan. Serta non muslim sebagai partner yang membentuk ikatan ke Indonesiaan.

"Ini salah satu nikmat besar yang dirasakan kaum santri dari hasil sikapnya yang tegas, menolak kedatangan kembali penjajah dan menerima proklamasi kemerdekaan 17 Agutus 1945," beber Dosen Filsafat Fakultas Sastra Unitomo ini.

Ia menegaskan, kaum santri terlibat aktif menyumbang putra-putrinya dalam perjuangan berat selama periode awal kemerdekaan (bersama elemen-elemen lain bangsa). Hal ini dapat dilihat dengan makin meluasnya keluarga dan anak-anak keturunan santri dalam pendidikan modern.

Bahkan, urai dia, dalam kilas balik sejarah pergerakan nasional, awal abad 20. Anak-anak santri banyak terlibat dalam gerakan kebangsaan Sarekat Islam (SI). Justeru yang menarik, sambung dia. Organisasi ini didirikan oleh yang tidak bisa dikatakan tipikal seorang santri.

"Tetapi memiliki komitmen besar terhadap keislamaman dan kepribumian." ungkap Hariyono.

Haryono menjabarkan, kaum santri sekarang, sudah banyak bergerak di bidang pemerintahan, birokrasi, militer, pendidikan umum, pengusaha. Tanpa  mengabaikan latar belakang pendidikan keislaman tradisional.

"Dan latar belakang keluarga mereka." ucap Hariyono.

Dikatakan, Keterlibatan santi dalam derasnya sistem dan isu ke Indonesiaan. Dilalui tanpa perlu menebar ancaman terhadap non muslim dan muslim nominal. Bagi dia, menunjukkan kaum santri sekarang lebih percaya diri. Mengaktualisasikan diri tanpa sekat sektarian. Bahkan dalam banyak hal, kaum santri terutama tradisional, disebut jadi pembela kaum minoritas.

"Dalam menghadapi kaum fasis yang sering disalah pahami." paparnya.

Dari sudut pandangnya, tindakan kaum santri tradisional ini, tidak karena faktor pragmatis politis. tetapi sikap teologis. Tindakan mereka sangat diilhami diskursus fiqh formal juga. Seperti Wacana diskusi tentang peran perempuan, politik kebangsaan dengan menolak negara khilafah, bela negara, toleransi dan sebagainya. Berangkat dari nilai-nilai khazanah fiqh klasik, yang diberi ruang dibaca ulang.

"Jadi bukan dari tindakan 'sekuler' tanpa  basis tradisi profetik." demikian beber Hariyono.

Copyright © Mili.id 2022

Editor : Redaksi



Berita Terkait