Peristiwa 10 November 1945: Bersatunya Aliran Politik Islam, Nasionalis dan Kiri

© mili.id

Haryono Kohar

Mili.id - Peristiwa 10 November 1945 tidak bisa dilepaskan dari suasana hiruk pikuk rasa gembira menyambut proklamasi 17 Aguustus 1945. Menurut pengamat pergerakan kebangsaan Indonesia, Haryono Kohar, meneguhkan bebasnya bangsa ini, menentukan nasib sendiri, tidak dalam penjajahan bangsa lain.

Dan seperti yang diramalkan, maka kemerdekaan Indonesia dianggap sepihak oleh sekutu yang merupakan pihak pemenang. Menurutnya, pihak poros yang kalah diwajibkan mengembalikan wilayah jajahan di Asia-Afrika kepada pemilik 'aslinya'.

"Yaitu Prancis, Inggris, Belgia, dan Belanda." kata Haryono, kepada Mili.id

Tentu saja, tindakan ini ditolak oleh warga jajahan di Hindia Belanda, Indochina, dan Afrika. Pihak Inggris, urai Haryono yang mendapat mandat melucuti tahanan perang Jepang dan mengembalikan kekuasaan kepada Belanda. Sudah jelas sejak awal ditolak di Surabaya.

Sedangkan di Jakarta, pemerintahan yang baru dibentuk sedang berusaha mencari citra. Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Sukarno-Hatta merupakan perwakilan resmi Indoensia yang menjamin keamanan warga Indonesia.

"Dari segala unsur dan bangsa asing yang tinggal di sini, termasuk warga kulit putih, terutama Belanda." kata dosen filsafat  Fakultas Sastra Unitomo ini.

Disebutkan, kesulitan citra pemerintahan baru Sukarno-Hatta. Tampak karena citra keduanya di mata sekutu yang dicap sebagai kaki tangan fasis penjahat Jerang, yang untuk itu pemerintah perlu menajamkan peran dua tokoh anti fasis Jepang, yaitu Syahrir dan Amir Syarifudin (kedua tokoh yang mewakili sosialis, tetapi kemudian Amir condong ke komunis dengan pasukan lascar Pesindonya).

Di Indonesia ungkapnya, orang-orang Belanda yang gembira, Hindia Belanda bakal dikembalikan, terkejut ketika pada September 1945, warna biru pada bendera mereka disobek menjadi merah putih. Dan peristiwa ini, memakan korban meninggalnya seorang Jenderal Belanda. Sebulan kemudian Inggris mendarat di Jawa, di Jakarta dan Surabaya untuk membawa pulang tentara Jepang.

Haryono memaparkan, jika di Jakarta disambut dengan ramah oleh Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Amir Syarifuddin. Maka di Surabaya, sejak awal Gubernur Suryo, pemuda-pemuda Surabaya menolak tegas kedatangan Inggris dengan menyatakan, arek Suroboyo siap mengatur tahanan milietr Jepang. "Usulan ini, tentu saja ditolak pemerintah Jakarta." ucap eks Mabinkom PMII Perjuangan Unitomo ini.

Amir, yang dekat dengan pemuda Surabaya menyakinkan. Arek-arek Surabaya menerima itu sebagai instruksi pusat. Sedangkan, Gubernur Suryo dan tokoh-tokoh Surabaya mengadakan pertemuan dengan pihak Inggris yang menekankan tentara Inggris tidak lebih dari 800 M dari basis mereka.

"Kemudian, Inggris berani melanggar, karena sesuai instrusi sekutu agar segera menduduki gedung-gedung penting di Surabaya. Kemudian menimbulkan konflik dan kekalahan di pihak Inggris pada 30 Oktober itu." beber Haryono

Inggris Ditekuk Bambu Runcing

Mengapa Inggris bisa kalah? Haryono menjabarkan, ada asumsi kuat, arek-arek Suroboyo sebagaian besar menggunakan modal nekad bambu runcing. Sebenarnya tidak begitu. Di Surabayalah kekuatan pemuda-pemuda terkuat di seluruh Indonesia. Pada saat itu, tegas Haryono terjadi karena kontak-kontak badan pemuda terutama sayap kiri (yang begitu besar di Suarabaya)  dengan pasukan Jepang sebelumnya.

"Banyak senjata senapan, termasuk senapan mesin, penangkis udara, dan peluru diperoleh dari pihak Jepang, meski tentu saja pihak republic tidak memiliki tank dan pesawat." katanya.

Kekuatan lainnya, urai Haryono adalah ketangguhan pasukan Indonesia dari militansi poltik dan motif. Pun juga Resolusi Jihad yang diserukan ulama-ulama tradisional di bawah organisasi NU mampu mengkonsolodasi laskar Hizbullah dan santri-santri pesantren. "Untuk mengidentifikasi perjuangan melawan usaha kembalinya kekuasaan Belanda lewat sekutu sebagai jihad dan suci." ungkapnya.

Sementara, kalangan nasionalis sebut Haryono, dengan laskar bantengnya pengaruhnya juga besar. Beberapa tokoh penting 10 November jelas berasal dari kalangan banteng, seperti Ruslan Abdulgani (sekaligus pemuda Muhammadiyah).

Kemudian Dul Atnowo, dan sebagainya. Dukungan dari kalangan kiri juga besar. Laskar Pesindo yang kiri dikomandani Sumarsono, seorang Kristen Jawa, berikut para pemimpinnya seperti Jetty Zein, Ruslan, dan juga tentara laut yang zaman itu dipimpin Katamhadi (yang kemudian dibunuh dalam peristiwa 1948).

"Yang menarik juga kekuatan laskar yang di Banten dianggap dekat dengan Tan Malaka, yaitu BPRI yang di Surabaya dengan tokohnya Bung Tomo." terang Haryono.

Di kalangan etnis minoritas, Haryono menjelaskan, peranan orang Arab Tionghoa dan India tidak kalah penting. Misalnya, Hamid Algadrie, seorang Arab Pasuruan menjadi bagian seksi propaganda. Selanjutnya jadi tokoh PSI (partai Sosialis Indonesia). Kemudian  Kundan, seorang India Surabaya, yang jadi juru terjemah dengan pihak Inggris.

"Dan tentu saja banyak perawat republican berasal dari gadis-gadis Tionghoa." ucapnya.

Perang dahsyat yang terbuka, antara dua kubu ini. Menurutnya berlangsung sampai akhir November, tentu dengan kemenangan di pihak Sekutu. 10 ribu warga Surabaya gugur, sedangkan di pihak Sekutu 2 ribu tentara. Sebagian besar bangunan di kota ini hancur.

Namun, lanjut Haryono, ini  tidak sia-sia. Karena perang membuat pihak Inggris sadar, mereka seharusnya tidak perlu ikut dengan urusan Belanda dan Indonesia, Sebab bangsa kita merdeka, bukan agitasi sekelompok elit berpusat pada Sukarno-Hatta, tetapi menyeluruh pada lapisan paling bawah. Perang itu tambahnya,  menunjukkan kaum santri, naisonalis yang dicap sekuler, dan kiri bisa bersatu.

"Demikian juga latar belakang agama, etnis dan ras demi cita-cita Indonesia merdeka milik bersama." demikian ulas Haryono.

Copyright © Mili.id 2022

Editor : Redaksi



Berita Terkait