Tingginya Kekerasan Anak, Warga Surabaya Dukung Wacana Kelas Keputrian Terpisah

© mili.id

Ajeng Wira Wati saat Reses bersama warga

Mili.id - Tingginya kasus kekerasan anak di Surabaya, diharapkan ke depannya tidak semakin krisis moral. Apalagi faktor tersebut ditengarai karena dampak pengaruh media sosial.

Begitu, kata Ajeng Wira Wati menerima keluhan warga saat menggelar reses (jaring aspirasi masyarakat), masa reses ke 2 pada 3-10 Mei 2023.

Terhadap hal itu, warga mendukung dengan wacana kelas keputrian/keputraan yang dipisah sendiri, mulai tingkat SD,  supaya meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi. "Namun harus selaras dengan pendidikan moral, akibat tantangan digitalisasi."tutur Ajeng kepada Mili.id, pada Jumat.

Maka, Ajeng menekankan, Pemkot turut hadir memberikan edukasi di sekolah, balai RT/RW, juga taman. Memberikan penjelasan seluasnya, tentang jenis-jenis kriminalitas medsos, beserta upaya pencegahannya yang tidak hanya bertumpu di puspaga.

"Di tempat umum (strategis) juga harus ada, agar mudah ditemukan info pencegahan itu," imbau Wakil Ketua Komisi D tersebut.

Pun juga beber Ajeng, warga juga mengusulkan ada penambahan dan peningkatan fasilitas bermain, baik di ruang terbuka juga balai RT/RW, Untuk menunjukkan, kota Pahlawan benar benar layak mendapatkan predikat kota layak anak.

Tak hanya itu, warga lanjut Ajeng, mendesak agar pemkot memberikan perhatian penuh kepada pelaku UMKM, memudahkan akses permodalan. Sekaligus pembinaan dan promosi hasil produk UMKM.

Karenanya, warga atau pelaku UMKM tersebut, ingin lebih ditingkatkan dan dirutinkan lagi pendampingan yang dilakukan pemkot. "Hingga skala kelurahan." demikian Ajeng Wira Wati

Sebagai informasi: Ajeng Wira Wati menggelar reses ke 2 nya, diselenggarkan disejumlah titik. Seperti Kecamatan Gubeng, Tegalsari, Simokerto, Genteng dan Bubutan. (rar)

Editor : Redaksi



Berita Terkait