Pemilu 2024, Suara Nahdhiyin Masih Jadi Primadona

© mili.id

Ilustrasi/Masmoel

Mili.id - Partai politik peserta Pemilu 2024, di Kota Pahlawan, telah melakukan pendaftaran bacalegnya ke KPU Surabaya, Jalan Adityawarman, terakhir pendaftaran ditutup pada Minggu 16 Mei 2023, pukul 23.59 WIB.

Dari Parpol yang mendaftar bacalegnya, dipastikan siap menyongsong pesta demokrasi 5 tahun tersebut. Menariknya lagi, parpol besar sama-sama ingin merebut hati kaum Nahdhiyin, guna mendulang perolehan suara mereka, pada Pemilu 2024.

Arif Fathoni, Ketua DPD Partai Golkar Surabaya mengatakan, Golkar memang partai nasionalis - religius, namun melihat komposisi nya, caleg Golkar terdapat beberapa Kyai kampung, yang selama ini berhimpun di ormas Nadhiyin, yang dicalonkan.

"Itu, menunjukkan komitmen Partai Golkar untuk mencalegkan sesuai dengan akar sosial masyarakat." kata Fathoni kepada Mili.id, pada Rabu.

Menurut Fathoni, suara Nahdhiyin tidak hanya sekedar dibutuhkan. Tapi selama 4 tahun terakhir, pihaknya selalu melibatkan unsur-unsur NU dalam kegiatan Golkar. Misalnya, saat HUT Golkar, pihaknya menghadirkan ikatan seni hadrah (ISHARI).

Kemudian, tambah anggota DPRD Surabaya tersebut, pengurus Partai Golkar kerap memberangkatkan ziarah wali lima, bagi jamaah Nahdhiyin. Hal ini, untuk memohon doa di tempat-tempat yang mustajabah, agar perjuangan Partai Golkar, memenangkan hati masyarakat Surabaya. "Itu diberi kemudahan oleh Allah SWT," ungkap Fathoni.

Zuhrotul Mar'ah, Ketua Bapilu PAN Surabaya menyatakan, semenjak kepemimpinan Zulkifli Hasan (Zulhas), PAN menjadi partai terbuka, sehingga masa Nahdhiyin juga bakal dijadikan sebagai kantong suara.

Memang, Zuhro mengakui, basis awal PAN adalah warga Muhammadiyah, namun menurutnya, saat ini warga Nahdhiyin juga bisa direkrut, juga caleg PAN ada yang non muslim.

"Kita buktikan (saat daftar caleg) juga
dalam keseharian. Teman-teman pakai sarung, itu juga bukti kita kepingin PAN  "bukan Muhammadiyah" tapi terbuka untuk semua," tutur anggota Komisi B DPRD Surabaya ini.

Sehingga ia menegaskan, PAN merupakan partai terbuka, religius-nasionalis. Namun tidak meninggalkan nilai-nilai keagamaan,  tapi terbuka untuk semua agama, terbuka untuk semua komunitas.

Nah, untuk perolehan suara Nahdhiyin, ia menargetkan sebanyak mungkin. Bahkan dia mengaku, kantong suaranya mayoritas dari kalangan Nahdhiyin juga. "Kita membangun bangsa, ibaratnya Muhammadiyah sama NU dan lainnya, itu sayap di sebelah, jadi tanpa mereka kita tidak bisa," katanya.

Senada dengan Zuhro, Ketua DPD PKS Kota Surabaya, Johari Mustawan menegaskan, sebagai parpol bersegementasi keagamaan, sudah tentu pihaknya senantiasa membina hubungan komunikasi yang baik, dengan semua elemen bangsa.

Dan PKS tambahnya, sebagai partai politik, yang berjuang juga mengedepankan empat pilar kebangsaan, berhubung baik dengan NU, Muhammadiyah, serta non muslim.

"Kita rangkul untuk bisa membangun kota Surabaya melalui Partai Keadilan Sejahtera," ujarnya.

PDIP Raup Suara Nahdhiyin 48%

PDIP menjadi partai politik yang paling dipilih kalangan Nahdliyin. Hal itu terungkap melalui hasil riset yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC) dengan responden masyarakat Jatim, yang dirilis pada 12 Januari 2023.

“PDIP meraih 48,9%, sedangkan PKB 9,4%, dan Gerindra 8,3%”, urai Direktur Riset SSC, Edy Marzuki

Meski demikian, Edy mengatakan jika ceruk di masyarakat Surabaya masih sangat terbuka lebar,  bagi seluruh partai.

“Karena masih ada 9,1% menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. Dengan jumlah sebanyak ini, yang bisa merangkul mereka bisa menyalip di tikungan akhir” pungkasnya.

Gerindra dan PKB Buka Suara

Hasil Survey, menurut Ketua DPC Partai Gerinda Surabaya Cahyo Harjo Prakoso, merupakan kajian akademis, sekaligus hasil penelitian manusia. Namun, ia memastikan ada kekurangan juga ada tepatnya.

Kendati begitu, survei merupakan suatu cambuk. Sebab bila itu baik, akan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan (elektabilitas). "Kalau kurang akan jadi evaluasi perbaikan," tegasnya.

Bicara masa Nahdhiyin, ia memaparkan,  Bendahara Gerindra Surabaya, merupakan salah satu tokoh kultural NU. Selain itu, pihaknya beserta caleg dan Fraksi Gerindra di DPRD Surabaya, sering berkegiatan bersama masyarakat NU. Namun, ia menegaskan, tidak bisa di kooptasi berpolitik hanya dengan NU.

Maka, ia mempersilahkan kepada caleg-caleg nya, untuk menyasar kantong suara di masyarakat luas, atau lebih memilih warga NU, dengan program yang pro terhadap kaum-kaum Nahdhiyin.

"Tidak harus, kita bagaimana berkoordinasi dengan NU, karena semua sudah ada basis masing-masing, ada kelompoknya masing-masing." tegasnya.

Lalu bagaimana dengan PKB, Ketua DPC PKB Kota Surabaya Musyafa Rouf masih meyakini, suara Nahdhiyin akan lari ke pihaknya.

Bahkan suara Nahdhiyin yang mayoritas lari ke PDIP, berdasarkan hasil survei tersebut, dinilai klaim semata.

"Sudahlah (kita tidak berpatokan pada survei, red), pokoknya lihat saja nanti (pemilu 2024, red)" tegas nya.

Kepala Bapilu PDI Perjuangan Surabaya, Anas Karno bersyukur, partainya lebih diminati kaum Nahdliyin. Maka, ia menegaskan, pihaknya bertekad mempertahankan dan meningkatkan perolahen suara Nahdhiyin, dengan mengandeng beberapa tokoh dan aktivitas NU.

Menurutnya, mendapatkan suara  Nahdliyin merupakan suatu kebanggaan, dan prestasi yang luar biasa. Sebab, Nahdliyin merupakan elemen penting bangsa ini. "Baik, dalam memajukan bangsa dan merawat Kebhinekaan," beber Anas.

Suara Nahdliyin, tambah Anas sangat mendukung, untuk menyuport kerja-kerja kerakyatan PDIP. Dalam menghadirkan program kongkret di tengah masyarakat. Misalnya, kebudayaan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan taraf kehidupan rakyat.

"Hal ini sesuai dengan arahan ketua umum Megawati Soekarnoputri," beber Anas.

Di samping itu, papar Anas, Nahdhiyin dengan PDIP mempunyai kedekatan emosional yang terbangun sejak zaman  Bung Karno. "Bahkan, sang proklamtor diberi gelar Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi AS Syaukah." urai Anas.

Demokrat, Jatim Lumbung Suara Nahdhiyin

Untuk pemilu 2024, DPC Partai Demokrat Surabaya juga menyiapkan bacalegnya dari putra - putri Kyai NU, dari kalangan milenial.

Mereka, urai Ketua DPC Partai Demokrat Lucy Kurniasari, ingin melakukan perjuangan melalui Demokrat, untuk memperjuangkan perubahan dan perbaikan, "Khususnya di Kota Pahlawan," ungkap Lucy kepada Mili.id.

Bacaleg Demokrat dari Nahdhiyin, itu tersebar di sejumlah dapil. Mulai dapil Surabaya 2, 1, 3 dan 5. Mereka bakal mendukung kekuatan caleg-caleg incumbent.

"Jadi suara Nahdhiyin dibutuhkan," tutur Lucy

Pasanya, beber Lucy Jawa Timur, suara Nadhiyin luar biasa. Maka, dia berharap kepada caleg Demokrat, utamanya incumbent, dalam melakukan kerja-kerja politiknya, konsisten berkoalisi dengan rakyat, sowan kepada tokoh-tokoh NU. Pun juga Srikandi Demokrat diimbau melakukan kerjasama dengan Muslimat NU.

"Kita tak memungkiri, kekuatan NU di Jatim luar, tentu kita dorong supaya kita dekat-dekat dengan kaum Nahdhiyin." demikian Lucy Kurniasari. (rar)

Editor : Redaksi



Berita Terkait