Kelas Pemikiran Gus Dur di Untag Tekankan Nilai Toleransi Patriot Muda

© mili.id

Kegiatan diskusi pemikiran Gus Dur di Untag. (foto: Rachmad FT/mili.id)

Surabaya - Menghadapi era distrupsi serta tantangan zaman, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar diskusi nilai-nilai toleransi di kalangan pemuda yang terhimpun dalam Kelas Pemikiran Gus Dur.

Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi antara DPM FH Untag menggandeng Gerakan GUSDURian Surabaya, Himpunan Mahasiswa Program Studi Agama-agama, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia Kota Surabaya, Roemah Bhinneka Moeda dan Pemuda Khatolik Kota Surabaya itu digelar di Theater Room Lantai 6 Gedung Pusat Rektorat dan Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945, Jumat (9/6/2023).

Kaprodi Fakultas Hukum Untag Surabaya Wiwik Afifah S.Pi., SH., M.H., saat membuka kelas tersebut dengan menyoroti pentingnya nilai nilai toleransi bagi mahasiswa sebagai bekal patriot muda yang akan mengembang amanah sebagai penggerak perdamaian.

“Kelas Pemikiran Gus Dur ini merupakan ruang akan membawa mahasiswa untuk bisa merespons kondisi negara kita yang terus maju dalam kehidupan berdemokrasi di negara kita yang dihasilkan oleh founding fathers mulai dari Soekarno kemudian di dengugkan dengan keras oleh K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini memiliki 9 nilai sebagai kerangka bagaimana kita bersikap sebagai patriot muda,” ungkap Wiwik melalui siaran tertulisnya, Sabtu (10/6/2023).

Kelas Pemikiran Gus Dur dihadiri oleh 3 narasumber diantaranya Ketua YPTA Surabaya sekaligus Ketua Dewan Pembina Roemah Bhinneka, J.Subekti S.H., M.M., Aktivis Gerakan Sosial, Puspita Ratna dan  Media Center PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran.

Aktivis Gerakan Sosial, Puspita Ratna mengungkapkan kekuatan Indonesia berasal dari perbedaan yang beragam sehingga dapat menjalankan demokrasi.

"Dengan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda, serta pemikiran yang berbeda dan sumber daya yang berbeda pula. Artinya Indonesia jangan diseragamkan, namun juga jangan sia-siakan potensi tersebut,” ucap Puspita.

Dalam memaknai demokrasi, menurut Ketua YPTA J. Subekti harus sesuai dengan nafas Pancasila yang memayungi semua identitas suku, agama, ras, dan sebagainya.

“Dalam konteks ini, keIndonesiaan itu milik bersama. Sehingga kebangkitan ini memang harus dimiliki oleh semua warga bangsa Indonesia tanpa terkecuali,” ujar J Subekti.

Dia menambahkan, saat ini mahasiswa memegang peranan penting dalam mewujudkan nilai – nilai toleransi. Sehingga estafet kepemimpinan bangsa, ada di tangan mahasiswa.

“Mahasiswa itu avant-garde. Garda terdepan bagi bagaimana masa depan bangsa Indonesia itu mau dibangun. Saya menyebut mahasiswa itu miniatur masa depan Indonesia. Mau lihat masa depan Indonesia, lihatlah mahasiswanya,” jelasnya.

Untuk mempersiapkan tersebut, tidak cukup hanya dengan memiliki wawasan nilai - nilai toleransi di kalangan pemuda, namun mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang paling penting bukan memiliki wawasan nilai toleransi, tapi bagaimana kita punya komitmen menanamkan nilai nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Ketua Dewan Pembina Roemah Bhinneka tersebut.

Reporter: Rachmad FT

Editor : Aris S



Berita Terkait