Beredar Kabar Siswa SMPN di Surabaya Harus Beli Buku MPLS, Kadispendik: Tidak Wajib

© mili.id

Kepala Dispendik Kota Surabaya, Yusuf Masruh (Foto: Rachmad FT/mili.id)

Surabaya - Tahun ajaran baru 2023/2024 TK hingga SMP di Surabaya akan dimulai dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (17/7/2023).

Namun, beredar informasi bahwa setiap peserta didik baru dan wali murid serta guru khususnya jenjang SMP Negeri di Surabaya diwajibkan memiliki buku panduan MPLS karangan Tim Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya.

Tiga buku tersebut adalah Buku Kopi Si Boyo (Buku Panduan Masa Orientasi Peserta Didik Baru untuk siswa baru), Si Ortu APIKS (Buku Panduan Masa Orientasi Orang Tua Peserta Didik Baru untuk orang tua siswa baru) dan Si Pandu APIK (Buku Panduan Masa Orientasi Peserta Didik untuk Guru dan Sekolah).

Dari data yang dihimpun mili.id, tiga buku tersebut memiliki harga satuan bervariasi. Misalnya, buku Kopi Si Boyo dibanderol Rp70 ribu, Buku Si Ortu APIKS Rp35 ribu dan Buku Si Pandu APIK Rp64 ribu.

Saat dikonfirmasi terkait informasi tersebut. Kepala Dispendik Kota Surabaya, Yusuf Masruh membenarkan bahwa tiga buku tersebut khusus untuk panduan MPLS 2023.

"Buku ini sebagai panduan khusus pada kegiatan MPLS," ujar Yusuf Masruh kepada mili.id usai rapat dengan para kepala sekolah SMP Negeri se-Surabaya di SMPN 39, Jumat (14/7/2023) malam.

Namun saat ditanya terkait adanya kewajiban peserta didik baru dan wali murid untuk memiliki atau membeli tiga buku panduan MPLS 202, Yusuf menegaskan bahwa tidak ada instruksi tersebut.

"Tidak wajib beli atau tidak wajib menggandakan," tegasnya.

Mantan Kabid Darlog BPB Linmas Kota Surabaya itu menjelaskan bahwa tiga buku khusus MPLS 2023 itu berisi rangkuman seputar pengenalan lingkungan, kegiatan (ekstrakulikuler), panduan sekolah, dan cara untuk menghindari perundungan atau bulying.

"Intinya minimal guru harus punya referensi yang akan disampaikan ke siswa. Dan supaya ada kesamaan antara guru satu dengan guru lainnya saat penyampaian materi MPLS itu," ujarnya.

Menurut Yusuf, saat MPLS nanti juga akan melibatkan kakak kelas, untuk menyampaikan kegiatan sekolah maupun pengalamannya di sekolah.

"Kemarin yang kakak kelas itu sudah dimintai untuk masuk ke sekolah untuk diarahkan untuk prosesi MPLS Senin besok. Misalnya, masuk jam 7, sehingga kaka kelas dapat bercerita bahwa di sekolahnya itu kalau Senin ada upacara. Selanjutnya ada pembiasan mengaji, ekskul dan hal-hal positif lainnya," tuturnya.

Yusuf menegaskan, dari total kurang lebih 17 ribu siswa baru di SMP Negeri Surabaya, tidak diwajibkan untuk membeli atau memiliki tiga buku panduan MPLS tersebut.

"Kami pun tidak memproduksi tiga judul buku itu. Untuk saat ini hanya sebatas modul, dan kami juga tidak pernah ada instruksi untuk semua peserta didik baru membeli buku itu," tegasnya lagi.

Sementara Koordinator Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Surabaya, Cipto Wardoyo Cipto mendukung kebijakan kepala dinas pendidikan bahwa, tidak ada kewajiban setiap siswa dan setiap wali murid mendapatkan buku panduan MPLS.

"Bukan mengintruksikan, tapi persiapan kala diperlukan. Tapi semua sudah tidak lanjut. Kita doakan MPLS Kota Surabaya berjalan lancar sesuai harapan kita semua," ungkapnya.

"InsyaAllah tidak ada. Kalau ada silahkan menyampaikan informasi tersebut ke kami. Kami akan kroscek dulu," tandas Cipto.

 

Reporter: Rachmad FT

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait