Bromo Menghitam dan Rusak Suku Tengger, Flare Prewedding Bukan Penyebab Utama

© mili.id

Probolinggo - Setelah 2 pekan lebih atau sekitar 15 hari Padang Savana dan Bukit Teletubbies Gunung Bromo diamuk di jago merah. Kini pemandangan hijaunya pepohonan dan rerumputan sudah tidak terlihat lagi dan bahkan sudah tidak sedap lagi untuk dipandang.

Kebakaran yang dimulai sejak Jum'at (1/9/2023) hingga Jum'at (15/9/2023) itu membuat sekitar area terbakar seketika menghitam. Flora seperti rumput malelo, bunga anggrek Tosari, bunga edelweiss, juga sudah tak bisa dilihat keindahannya, begitu juga fauna, seperti Lutung dan Elang Jawa.

Kepala Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Sunaryono mengatakan, musibah yang terjadi di kawasan TNBTS itu bukan sepenuhnya karena adanya flare asap pada saat 6 orang hendak melaksanakan prewedding di musim kemarau.

Namun, menurut Sunaryono, jauh sebelum adanya dampak flare asap itu, kebakaran di Gunung Bromo juga terjadi dan api pertama muncul berasal dari wilayah Kabupaten Lumajang. Hal ini membuat pihak pengelola melakukan buka-tutup untuk kunjungan wisatawan.

"Tak sepenuhnya, 6 orang yang hendak melakukan sesi prewedding disalahkan, karena sebelumnya kebakaran lainnya sudah terjadi. Ini pelajaran bagi semua pihak, mulai pengelola, pengunjung wisata hingga masyarakat Suku Tengger sendiri," kata Sunaryono, Sabtu (16/9/2023).

Oleh karenanya, Sunaryono meminta semua pihak agar tidak menyalahkan perbuatan 6 pengunjung yang hendak melaksanakan prewedding dengan menyalakan flare asap atau suar. Alasan itu, kata dia, lantaran keasrian Padang Savana juga lebih dulu rusak karena dampak pengunjung.

"Dan juga sebelum adanya kebakaran, Savana itu sudah rusak dan penyebabnya karena digilas atau terlindas mobil yang dikendarai para pengunjung. Kedepannya, saling menyalahkan untuk saat ini tidak tepat, demi kebaikan semua pemulihan harus segera dilakukan," tutur Sunaryono.

Editor : Redaksi



Berita Terkait