Nurul Jadid Retas Tantangan Gerbang Global, Dorong Ekonomi dan Layani Masyarakat

© mili.id

Surabaya - Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Surabaya Raya menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H dan seminar peran santri menghadapi era globalisasi di Balai Prajurit Kodam V Brawijaya, Sueabaya, Kamis (28/9/2023).

Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid mengatakan bahwa seminar tersebut merupakan implementasi ekonomi pondok pesantren melalui pembahasan ilmiah berupa seminar dan wawasan. Juga ada pameran produk UMKM.

"Ponpes Nurul Jadid berupaya mendorong para santri bergerak ke arah ekonomi di dalam pelayanan masyarakat," ujarnya.

KH Abdul Hamid mengatakan bahwa dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2019 menyebut tiga fungsi pesantren. Yaitu sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, dakwah pengkaderan serta pelayanan masyarakat.

Proses di dalam internal pesantren memilki tujuan utama pengabdian kepada masyarakat. Berbuat sesuatu dan berjuang agar lebih baik sehingga santri harus menjalankan tiga fungsi tersebut.

"Sementara tantangan ke depan adalah tantangan dalam bidang ekonomi," jelasnya.

Maka dari itu, seminar hari ini juga membongkar banyak strategi dan peluang agar ekosistem ekonomi pesantren tetap kokoh.

KH Abdul Hamid kemudian kilas balik pada tahun 1992. Berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pasifik yang mengundang sejumlah kepala negara anggota. Pada tahun 2020, negara-negara konferensi sepakat memasuki gerbang global penuh.

Artinya negara tidak lagi melakukan proteksi, tarif bea masuk dan lain-lain. Namun, tanpa disangka pada tahun 2020 terjadi bencana pandemi Covid-19.

"Orang-orang mungkin lupa. Tapi begitu ini selesai mereka sadar dan ingat lagi pada perjanjian itu. Ini akan segera menjadi sebuah gelombang besar," ungkapnya.

Artinya persaingan terbuka lepas. Kedua, lanjutnya, dalam seminar ini juga membahas terkait revolusi industri 4.0.

Di mana teknologi informasi berkembang pesat sejalan pengembangan teknologi artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Hal itu kian menambah daftar gelombang globalisasi.

Ponpes Nurul Jadid mengambil peran dan fungsi melalui Society 5.0.

"Saya kira itu tidak hanya kita bicarakan tapi harus kita lakukan dan kita pecahkan masalah teknis maupun ideologis yang ada di dalamnya dan mengambil bagian," terang dia.

Kiai yang aktif dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren tersebut menambahkan pihaknya sudah mempersiapkan sejumlah langkah strategis melalui kolaborasi dengan berbagai pihak dan lintas sektor.

Ponpes Nurul Jadid bersama 14 pesantren besar juga telah menandantangani Deklarasi Surabaya bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan.

Penandatanganan deklarasi dilakukan pada tahun 2019. Deklarasi itu berisi komitmen menjadikan Jatim sebagai pusat akselerasi bisnis khususnya bisnis dan ekonomi syariah kerakyatan.

Sejak itu mereka berproses, berinkubasi dan mengakselerasi dalam ekonomi bisnis pesantren.

Jatim sendiri memiliki tiga distribution center dan memilih menjadi akses pemasaran. Ada tiga pondok pesantren dilibatkan. Ponpes Nurul Jadid, Ponpes Tambak Beras dan Ponpes Sunan Drajat.

"Proses produksi dan macam-macam itu sudah dianggap selesai oleh Jatim," kata KH Abdul Hamid.

Mereka fokus pada peningkatan standar-standar dan jaring pemasaran. Mulai dari hulu sampai hilir pernak pernik perdagangan dunia. Bukan sekadar inkubasi dan wacana. Tapi sudah proses implementasi.

"Kita bagian dari proses itu dan kita melakukan expo di Nurul Jadid," tambahnya.

Namun demikian, banyak juga lukisan Ponpes Nurul Jadid menjadi entrepreneur sukses. Maka mereka berjejaring berjamaah membangun sebuah ekosistem.

"Nah itu yang penting saya kira. Karena belajar dari kasus Thailand krisis ekonomi 1990-an akhir 1998-1999. Mereka menggunakan sistem UMKM dan bisa lolos dari krisis lebih awal di Asia Tenggara mungkin di dunia juga," jelasnya.

Thailand, sambung KH Abdul Hamid, juga mengambil pinjaman di IMF. Tetapi memanfaatkan uang dengan efisien dan efektif untuk belajar teknologi pertanian dari Israel. Meliputi agribisnis, agriculture dan lainnya.

Begitu pula Korea dan Jepang. Namun mereka menggunakan sistem konglomerasi.

"Nah, sekarang kita belajar itu dan belajar dari aspek-aspek yang memperkuat akselerasi ekonomi. Kecil-kecil tetapi berkolaborasi," ungkapnya.

Ponpes Nurul Jadid terus mengembangkan ekosistem jaringan sebagai kerangka dalam pemberdayaan ekonomi.

Diketahui, dalam kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Dewan Pengasuh PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Khususnya Pengasuh PP Nurul Jadid KH Zuhri Zaini, para alumni, santri, wali santri, dan simpatisan yang berada di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Menghadirkan penceramah KH Musleh Adnan dan KH Muhammad Nur Hayyid.

Sedangkan seminar santri menghadapi tantangan era globalisasi dihadiri dan diisi langsung oleh Kepala Pesantren PP Nurul Jadi KH Abdul Hamid Wahid, Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak, Pangdam V Brawijaya Mayjend Farid Makruf, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Prof. Masud Said, Prof Dr Moh Khusnuridlo, Prof Drs Wibisono Hardjo Pranoto, Ma'ruf Nidhomuddin dan dimoderatori oleh Dr Moh Syaeful Bahar.

Editor : Redaksi



Berita Terkait