Kisah Nyata Politisi PDI Perjuangan Jawa Timur Dampingi Pasien Hidrosefalus Hingga Sembuh

ANDAI saja Eddy Tarmidi Widjaja pasrah dan pesimis dalam penanganan medis, mungkin kondisi Siti Nurhasanah bayi Hidrosefalus yang didampinginya akan berbeda. Takdir berkata lain, setelah puluhan tahun terpisah, kini bayi tersebut sembuh dan beraktifitas normal.

Raut kebahagiaan terpancar dari wajah Eddy Tarmidi Widjaja. Matanya berkaca- kaca menahan haru, saat melihat sebuah dokumenter pendek yang merekam perjalannya menuju Ambuten, Kabupaten Sumenep, Madura pekan kemarin. Ia menemui Ana (Siti Nurhasanah) dan kedua orang tuanya, Sahmadi-Rahmani.

Lelah perjalanan dari Surabaya menuju Sumenep berkurang saat Eddy dipertemukan dengan Ana oleh Marfuah seorang Bidan di Puskesmas Ambuten.

''Saya begitu bahagia. Ana tambah sehat, hidup normal dan bersekolah. Bahwa keputusan saya 10 tahun silam begitu tepat,'' ujar Eddy, Jumat (20/10/2023).

Pendampingan kemanusiaan yang dilakukan oleh Eddy Tarmidi Widjaja kala itu menjadi kenangan membekas tak terlupakan. Saat itu, dengan kondisi kepala membesar di bagian kanan dan baru berusia sekitar empat hari, Ana dirujuk disebuah rumah sakit pemerintah di Surabaya utuk penanganan medis.

Sayang, penanganan tersebut sempat tertahan lantaran bidan yang membawa bayi Ana bersama kedua orang tuanya tidak mendapat penanganan cepat.''Bukan ditolak, tapi disuruh kembali lagi seminggu kedepan. Sementara kondisi bayi kasihan jika harus perjalanan jauh bolak-balik,'' tutur Marfuah.

Samhadi, juga sempat meminta perangkat Desa setempat untuk meminta bantuan kepada Forkopimda Kabupaten Sumenep.''Saya minta tolong kepada Pak Camat, Bupati, Gubernur dan Presiden. Tolong dukung Saya (proses penanganan Ana),'' kata dia.

Kabar tersebut terdengar oleh Eddy Tarmidi yang saat itu konsern terhadap pendampingan kesehatan di DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Ia segera meluncur dan menemui keluarga Ana beserta Bidan yang mendampingi.''Karena bayi ini butuh pertolongan segera. Waktu itu ya agak intervensi dalam tanda kutip kepada rumah sakit agar Ana dapat dilakukan tindakan medis,'' ungkapnya.

Perjuangan bagi Ana mendapat penaganan medis tidak mudah. Selain kondisi ekonomi kedua orang tua tidak mampu, rasa pesimistis untuk Ana bertahan hidup dari tim medis yang menangani menjadi cobaan berat.

''Saya saat itu percaya bahwa yang menentukan kehidupan adalah yang diatas. Kita sebagai manusia berupaya. Meski ada yang mengatakan bahwa pendampingan ini sia-sia, mengingat kondisi bayi pasca operasi bisa cacat atau tidak tertolong, Saya ngotot agar dilakukan operasi,'' terang politisi sekaligus Calon Legislatif DPRD Surabaya Dapil 5 itu.

Meski harus merogoh kocek pribadi, serta bantuan sosial dari kolega Eddy Tarmidi akhirnya operasi dilakukan dan berjalan lancar. Eddy Tarmidi mengatakan, saat ini kondisi Ana sudah normal dan sudah bersekolah namun proses pengobatan pasca operasi diharapkan tetap berjalan.

Editor : Oktavian Dio



Berita Terkait