Kelompok Hutan Sosial Banyuwangi Sukses Kembangkan Tuan Krab dan Pupuk Feses Ternak

© mili.id

Kelompok Hutan Sosial Banyuwangi kembangkan Tuan Krab dan Pupuk Feses Ternak (Foto: Eko Purwanto/mili.id)

Banyuwangi - Masyarakat hutan tak melulu soal kayu dan pikiran konservatif. Di Banyuwangi, ada kelompok masyarakat hutan menciptakan inovasi berbasis agroteknologi.

Budidaya kepiting bakau dan pembuatan pupuk dari feses hewan buktinya. Dua inovasi itu lahir dari buah pemikiran masyarakat tepian hutan di Dusun Persen, Desa Keduangsri, Kecamatan Tegaldlimo yang tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).

Kelompok masyarakat ini terbagi dalam dua unit. Unit pertama dengan nama kelompok Tuan Krab berfokus pada budidaya kepiting bakau.

Sedangkan unit KUPS Organik fokus pada pengelolaan pupuk dari ternak hewan. Kedua program dari kelompok ini diklaim mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan.

Kelompok Tuan Krab memanfaatkan jeriken bekas sebagai wadah penampung kepiting bakau. Diletakkan berjejer di tepian pantai. Metode tersebut yang disebut dengan battery cell.

"Pakai jerigen 20 liter yang sebelumnya dilubangi. Kemudian diletakkan di bawah pohon bakau dengan itensitas terkena matahari 25 persen," kata Ketua Kelompok Tuan Krab, Sugeng Mulyono, Minggu (29/10/2023).

"Untuk pakan kepiting memanfaatkan ikan laut tangkapan sendiri. Dicacah, kemudian diberikan setiap dua hari sekali," imbuhnya.

Budidaya pembesaran kepiting bakau dengan metode battery cell tersebut selain memberikan dampak ekonomi warga juga bertujuan untuk menjaga ekosistem hutan mangrove Teluk Pangpang di kawasan Taman Nasional Alas Purwo.

Untuk KUPS Pupuk Organik dengan keanggotaan 201 orang ini fokus pada pengolahan feses hewan dijadikan kompos. Kemudian diaplikasikan terhadap tanaman hutan petani pengganti pupuk kimia.

"Pupuk organik yang digunakan ini dikhususkan untuk memperbaiki tanah yang sudah puluhan tahun menggunakan pupuk pabrikan atau pupuk kimia," ujar Ketua Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Keduangsri, Supiono.

Proses pengolahan terbilang sederhana. Feses atau kotoran ternak kemudian difermentasi selama 7 hingga 10 hari. Kemudian dikemas menggunakan karung dan dijual kepada petani sekitar.

"Untuk harga jual Rp10 sampai Rp25 ribu per karung. Di sini paling banyak (petani) pakai yakni petani melon semangka, dan buah naga," tambahnya.

Kapasitas produksi kelompok ini mencapai 3-4 ton setiap hari. Untuk bahan baku, diambil dari peternak sekitar. Mudah dan ketersediaan terbilang melimpah.

"Untuk bahan bakunya sangat melimpah dan pengambilan bahan baku dari masyarakat sekitarnya," ungkap Supiono.

Dalam perjalanannya, kedua kelompok tersebut didampingi Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (AruPA) dari Yogyakarta.

Kegiatan kelompok ini juga didanai Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan RI dengan program penguatan implementasi agroforestry dan mendorong adanya intensif pasar untuk mendukung kinerja ekonomi perhutanan sosial di Jawa Timur.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait