Mengenal Palapa Mojo, Portal Satu Pintu Penampung Layanan Masyarakat Kota Mojokerto

© mili.id

Portal Palapa Mojo yang menjadi rumah integrasi semua aplikasi layanan masyarakat untuk Kota Mojokerto (Foto: Diskominfo Kota Mojokerto)

Mojokerto - Palapa Mojo kini hadir menjadi portal dari semua aplikasi layanan masyarakat terpadu yang ada di Kota Mojokerto.

Aplikasi tunggal ini bertujuan untuk memberi kemudahan pelayanan berkualitas melalui satu pintu utama (one gate apps) terhadap warganya.

Kepala Diskominfo Kota Mojokerto, Santi Ratnaning Tias menjelaskan, untuk memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat, masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah membuat aplikasi base nya digitalisasi selama ini.

Namun, lanjut santi, banyaknya aplikasi yang ada di tengah-tengah masyarakat sedikit membingungkan masyarakat untuk mengingat dan mengakses secara parsial satu persatu aplikasi sesuai jenis layanan yang dibutuhkan.

"Selama ini satu masalah ya satu aplikasi, sehingga aplikasinya jumlahnya banyak. Di Kota Mojokerto ada 293 aplikasi yang sudah dibangun. Oleh karena itu, untuk memudahkan masyarakat, Pemkot Mojokerto menyiapkan portal Palapa Mojo. Yakni aplikasi layanan publik terpadu dan terintegrasi yang bisa diakses dalam satu aplikasi," ujar Santi dalam siaran pers yang diterima mili.id, Rabu (1/11/2023).

Aplikasi yang dikembangkan oleh Diskominfo itu nantinya bisa memberikan berbagai jenis pelayanan. Baik itu pelayanan pendidikan, kesehatan, perizinan, administrasi kependudukan, sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya.

"Jadi masyarakat tidak perlu ribet lagi membuka banyak aplikasi untuk mendapatkan banyak pelayanan. Cukup mengakses Aplikasi Super Mojo, langsung bisa mengakses ratusan pelayanan yang tersedia. Termasuk juga layanan pengaduan, Curhat Ning Ita," tegasnya.

Santi menyebut, ada beberapa tahapan untuk merealisasikan aplikasi terpadu tersebut. Saat ini pihaknya sudah membangun gate system nya untuk bisa di integrasikan ke 293 aplikasi yang tersebar di seluruh OPD se Kota Mojokerto.

"Kita juga sudah lakukan sosialisasi, saat ini sudah ada sebagian aplikasi yang sudah terintegrasi. Target kita akhir tahun 2024 nanti, seluruhnya sudah terintegrasi. Karena untuk mengintegrasikan aplikasi ini tidak mudah. Selain jumlahnya ratusan, kreatornya juga berbeda-beda, tidak semuanya dari Diskominfo," bebernya.

Ia menegaskan, keberadaan pelayanan publik terpadu bukan berarti akan mematikan inovasi, tetapi justru mendorong berbagai inovasi tersebut lebih berkembang dan bermanfaat secara luas bagi masyarakat.

"Berdasarkan arahan Bapak Presiden Jokowi, bahwa saat ini tidak boleh lagi membangun aplikasi baru, yang diperbolehkan adalah melakukan konsolidasi aplikasi atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada menjadi layanan terpadu yang memudahkan masyarakat," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait