Perupa Putu Wardhani dan Mahasiswa UC Surabaya Bikin Lukisan dari Ampas Kopi

Hari Pahlawan

© mili.id

Perupa Putu Wardhani bersama Mahasiswi Visual Communication Design ketika melukis dan menujukkan hasil karya lukisan dari ampas kopi di UC Surabaya (Foto: Shella/mili.id)

Surabaya - Perupa Putu Wardhani mengajak mahasiswa Universitas Ciputra (UC) Surabaya untuk merayakan Hari Pahlawan dengan menjadi pahlawan lingkungan, salah satunya melukis memakai ampas kopi.

Melalui karyanya, Putu mempunyai suistanable goals atau tujuan berkelanjutan dalam membuat lukisan dari ampas kopi.

"Melalui ampas kopi ini kita juga mengampanyekan kita peduli lingkungan. Itu bisa jadi awal dari sebagai bentuk cinta kita terhadap pahlawan. Kita juga bisa jadi pahlawan buat lingkungan kita," ungkap Putu yang juga staf kependidikan Visual Design Communication UC Surabaya itu, Kamis (2/11/2023).

Dari ampas kopi, Putu bersama 6 mahasiswa Visual Design Communication menggambarkan beberapa kisah penting saat 10 November 1945, seperti profil Bung Tomo dan perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, yang saat ini menjadi hotel Majapahit.

"Saya juga membuat beberapa icon, khususnya di Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan, Bung Tomo, perobekan bendera belanda di Hotel Yamato. Ada juga pertempuran di daerah Jembatan Merah dan momen salah satu tentara Inggris yang sedang membidik musuh di daerah Karangpilang," jelasnya.

Menurutnya, kegiatan ini juga memberikan edukasi kepada mahasiswa agar bisa berkreasi dengan ampas kopi yang biasa dibuang.

"Ini bertujuan juga untuk memberikan edukasi kepada teman-teman, mahasiswa, dan masyarakat, bahwa waktu ngopi itu kita bukan hanya bisa untuk bercanda. Kita juga bisa berkreasi dengan menggunakan ampasnya, sehingga ampasnya tidak dibuang percuma," ujar Putu.

Terdapat kesulitan tersendiri ketika Putu menggunakan ampas kopi sebagai pengganti cat air. Menurutnya, perbedaan pigmen pada ampas kopi menjadi salah satu kendala yang membuatnya harus sabar menunggu.

"Kesulitannya yang saya peroleh menggunakan ampas kopi adalah karena pigmen ampas kopi tidak segelap dengan cat, atau bahan melukis lainnya. Jadi saya membutuhkan waktu lebih lama untuk menambahkan tiap layer ampas kopi," jelas dia.

Untuk menyelesaikan satu lukisan, ia membutuhkan dua sampai tiga jam, tergantung kerumitan objek. Mulai dari membuat sketsa, mencampur kopi dengan air panas, dan menambah layer beberapa kali untuk mendapatkankan hasil yang diinginkan.

"Membutuhkan waktu dua sampai tiga jam, bisa juga 4 jam. Ketika kita membuat lukisan dengan ampas kopi, kemudian airnya panas, masih panas, itu sangat menguntungkan kita, karena kopi lebih terpecah dan menghasilkan pigmen yang lebih kuat," terangnya.

Tahap terakhir, agar warna lukisan terlihat lebih tajam dan tahan lama, ia menyemprotkan vernish.

"Bisa bertahan tahunan. Karena bahannya organik, jadi saya menambahkan vernish atau clear. Sehingga bisa mengikat warna kopi, membuat awet dan menajamkan warna. Membuat lukisan itu hidup dan menarik," sambung Putu.

Sharon, salah satu mahasiswi Visual Design Communication UC Surabaya mengaku mendapatkan tantangan baru, ketika melukis tokoh Slamet Riyadi, Pahlawan Nasional menggunakan alternatif selain cat maupun crayon.

"Asik, mendapatkan tantangan baru. Kendalanya waktu, karena kalau di watercolor dan lainnya kan cepet keringnya baru bisa ditumpuk," tutur Sharon.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait