Marasakan Sejuknya Titik Nol Trawas di Kaki Gunung Penanggungan dan Welirang

© mili.id

Salah satu pengunjung menikmati minuman dan makanan ringan yang disediakan di kafe Titik Nol Trawas, Mojokerto (Foto: Karina/mili.id)

Mojokerto - Titik Nol Trawas, Mojokerto bisa menjadi referensi tempat berlibur saat akhir pekan.

Di sini, terdapat kafe, tepatnya di Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Kafe ini menyuguhkan pemandangan dua gunung sekaligus di atas permadani hijau yang ditumbuhi kacang tanah.

Dari kafe ini, pengunjung bisa langsung melihat Gunung Penanggungan di sisi utara dan Gunung Welirang di sisi selatan. Sembari menyeruput kopi Pawitra yang berasal dari biji kopi khas Trawas.

Jangan sampe kecele, karena jam operasional kafe ini hanya sejak pukul 09.00 sampai 17.00 WIB.

Dari atas tatakan papan yang dibuat pengelola di sisi jalan desa yang ada di samping area sawah kacang tanah ini, para pengunjung bisa bercengkrama sembari menikmati segarnya udara dingin bebas polusi.

Seperti yang dirasakan Tatik Nur Hasanah, yang sengaja datang untuk menikmati keindahan sore hari bersama saudaranya, sembari menikmati minuman dan makanan ringan yang disediakan pengelola.

"Viewnya di sini cukup bagus, tadi sama adik saja," ungkap Tatik, Sabtu (4/11/2023).

Tatik mengaku, di lokasi yang masih terbilang baru dan berada di sekitar jalan desa ini disediakan beberapa pilihan menu minuman mulai dari es hingga minuman panas. Ada juga pilihan menu Snack atau makanan ringan yang menurutnya harganya cukup terjangkau.

"Tadi ada pentol bakar, kentang goreng dan es strawberry," tuturnya.

Sementara Muhammad Irfan salah satu pengelola menjelaskan bahwa kafe yang kini viral di beberapa platfom media sosial ini dikelola sejumlah pemuda desa setempat.

"Kafe dikelola oleh pemuda dari pemuda. Kita guyub rukun untuk membuat usaha," ungkapnya.

Menurut Irfan, awalnya dulu hanya iseng, menggunakan stand di atas Vespa. Namun kini telah berganti konsep, dikelola seperti warung dengan tersedia beberapa tempat duduk di area samping persawahan.

Kini, 10 pemuda telah berkolaborasi untuk mengelola bersama dan diperkejakan secara gotong royong.

"Biayanya kita patungan dari pemuda sendiri dan kita kelola lalu dimasukkan ke kas. Sisanya kita bagikan untuk yang bekerja, pengelolanya yang sekarang ada 10 pemuda," ungkap dia.

Pengunjung Titik Nol Trawas ini rata-rata dari luar kota, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Pasuruan.

"Kalau minuman kita perkopian, Robusta Pawitra yang diambil dari asli tanah Trawas," pungkas Irfan.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait