Si Kapten Kamas, Komandan Kompi The Black Cat Peneror Belanda Asal Trowulan Mojokerto

© mili.id

Kapten Kamas Setyoadi si pemilik kanuragan hingga ditakuti penjajah kolonial Belanda. (Foto: Nana/mili.id)

Mojokerto - Mojokerto nyatanya memiliki pahlawan yang mungkin masyarakat banyak tak tahu dengan kemampuan kanuragan yang ditakuti penjajah kolonial Belanda. Kapten Kamas Setyoadi namanya, pemimpin pasukan kompi The Black Cat atau kucing hitam.

Kompi The Black Cat sendiri masa itu bermarkas di Dusun Wates Lor, Desa Balongwono, Trowulan, Mojokerto. Lokasinya berhadapan dengan pos penjagaan Belanda. Sedangkan wilayah perjuangannya meliputi Sumobito dan Mojoagung, Jombang sampai Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto dan Kota Mojokerto.

Sepak terjang Kapten Kamas rupanya menjadi momok bagi para penjajah. Betapa tidak, ia memang dikenal memiliki ilmu kanuragan. Upaya pasukan KNIL menangkap dan membunuh Kapten Kamas tak pernah membuahkan hasil.

Sampai-sampai kolonial Belanda membuat sayembara penangkapan Kapten Kamas, baik kondisi hidup, maupun mati akan diberi hadiah. Tak tanggung-tangung hadiahnya berupa uang sekarung. Namun, suami dari perempuan bernama Amanah itu selalu lolos dari kepungan.

Kisah ini dituturkan oleh anak kedua Kapten Kamas, Sri Hastoeti (62) saat ditemui di rumahnya, Jalan Raya Brangkal nomor 1, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Meski saat ayahnya berjuang melawan Belanda ia belum lahir. Sri mengaku pernah mendengar cerita perjuangan dari ayahnya langsung sewaktu masih hidup. Dan orang-orang sekitar, termasuk ibunya, Amanah.

"Bapak juga cerita ke anak-anaknya. Belanda menangkap saja tidak bisa. Sampai dibuat sayembara berhadiah uang sekarung," tuturnya, Jumat (10/11/2023).

Pasukan kecil Kompi The Black Cat ini menerapkan taktik perang gerilya, serupa taktik yang digunakan Jendral Soedirman. Dengan cara ini mereka mampu menipu, mengelabui, dan menyerang secara tiba-tiba dengan mengandalkan kecepatan untuk menghilang tanpa sempat dibalas oleh musuh.

Tempat persembunyian mereka tidak pasti alias berpindah-pindah. Hal ini bertujuan memecahkan konsentrasi musuh. Maka tak heran, pasukan kecil Kapten Kamas sulit ditemukan. Sekalinya ketemu pun, Kapten Kamas yang paling diincar. Tapi tak akan mudah dilumpuhkan.

"Pasukan bapak kecil, tak sampai 100 orang, tapi ditakuti Belanda. Karena tiba-tiba bisa hilang, dicari tidak ketemu. Bapak pernah di tembak Belanda jarak dekat, meleset," ujar Sri.

Sri meyakini mendiang ayahnya memiliki ilmu kanuragan tinggi. Semasa hidup, ayahnya menyimpan banyak pusaka berupa keris di rumah. Hanya saja, setelah ayahnya manghadap Sang Pencipta, barang-barang pusaka di buang. Kini tak tersisa satu pun.

Menurut cerita mendiang ibunya, tanda-tanda kelebihan Kapten Kamas sejak masih dalam kandungan. Rata-rata usia kandungan 9 bulan. Tapi tidak dengan Ibu Kamas, Sriyatun.

Sriyatun mengandung Kamas selama satu tahun lebih. "Proses lahirnya normal. Karena dulu kan tidak ada operasi caesar. Mungkin itu (berada dalam kandungan satu tahun lebih) yang membuatnya sakti," bebernya.

Sepuluh tahun pasca Agresi Militer Belanda II selesai, Kapten Kamas memutuskan untuk pensiuan dini. Kala itu ia berusia masih muda untuk ukuran prajurit angkatan bersenjata, yakni 32 tahun.

Berdasarkan dokumen-dokumen yang masih tersimpan, Kapten Kamas pensiun dini dari ABRI 1 Juli 1959. Pemilik NRP 16721 ini terakhir kali berdinas di Kesatuan DBI VI Jember atau kesatuan pendidikan tentara pada masa itu.

Meski pensiuan, bukan berarti Kamas tidak memiliki pekerjaan. Ia memulai merintas bisnis kontraktor atau pemborong, menyewakan truk untuk angkutan barang, sampai bisnis perkebunan jeruk di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Bahkan, Sang Pahlawan ini juga mendirikan sekaligus melatih perguruan pencak silat, kini bernama Dalikumbang. Ia mengajak pemuda-pemuda Desa Sambiroto untuk berlatih pencak silat. Sebagian muridnya dibekali ilmu kanuragan.

Kapten Kamas sering kali melakukan pertunjukan ilmu kebal dan beratraksi ekstrim. Seperti perutnya dilindas ban truk. Bahkan, Kamas masih beratraksi meski didiagnosa sakit liver disisa akhir hidupnya.

Sang peneror ini bahkan pernah muntah darah karena penyakitnya tersebut sekitar 3 tahun sebelum wafat. Pejuang yang lahir di Desa Sambiroto 28 September 1927 ini akhirnya wafat 12 Oktober 1980 di usia 53 tahun.

"Setelah muntah darah dia masih akrobat, perutnya di lindas mobil, dia ingin menunjukkan masih kuat. Cuma akhirnya sakitnya tambah parah. Bapak tidak mau menyerah, namanya juga pejuang," ujarnya.

Cerita kesaktian Kamas juga diungkapkan oleh salah satu genaris penerus Perguruan Pencak Silat Dalikumbang, Imam. Pria berusia 51 tauh itu mengatakan, berdasarkan cerita yang ia terima dari para sesepuh Dalikumbang, sang guru besar mempunyai ilmu kanuragan yang tidak diragukan lagi.

Semasa kolonial Belanda, sang guru besar adalah sosok yang paling dicari. Namun, ketika dikepung selalu hilang bagai di telan bumi.

"Ilmu kanuragan beliau sangat tinggi. Pernah dulu masa penjajahan kalau dicari pasti hilang, sudah dikepung bisa hilang. Pernah mendorong gerbong kereta api Belanda sampai roboh di Sumobito. Kesaktiannya luar biasa," cerita Imam.

Kamas Setiyoadi mengkomandoi Kompi The Black Cat berdasarkan perintah dari Komandan Divisi Jawa Timur Kolonel Sungkono. Kamas mendapatkan mandat mengacau basis kekuasan Belanda di daerah Sambiroto, Jombang, Mojoagung, Puri, dan Kota Mojokerto.

Kala itu, Belanda melakukan serangan agresi militer II untuk mengusai Indonesia yang kedua kali pasca Kemerdekaan. Serangan ini dilancarkan Belanda pada 19-20 Desember 1948.

Oleh sebab itu, Kolonel memerintah Kapten Kamas membentuk pasukan kecil untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai penjajah.

Dibawah komando Kapten Kamas, Kompi The Black Cat Berungkali melakukan aksi teror, sabotase dan penyerangan terhadap pasukan Belanda maupun pribumi yang loyal terhadap penjajah.

Tiap kali beraksi, mereka meninggalkan secarik kertas berisi tulisan TBC, singkatan dari The Black Cat, di tempat sasarannya.

Aksi teror Kompi The Black Cat yang paling sering didengungkan adalah ketika menyabotase rel kereta api miliki Belanda. Lokasi saat ini terletak di Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Aksi sabotasi itu terjadi tahun 1949. Ketika itu kereta api berisi logistik melaju dari arah Mojokerto menuju Jombang. Akibat aksi mereka, kereta terguling dan merenggut korban jiwa.

Puncaknya pada November 1949, pasukan ini berhasil menguasai wilayah Mojokerto, Bangsal, Puri, Sooko dan Trowulan. Perjuangannya Kompi Kucing Hitam yang dikomandoi Kapten Kamas berakhir setelah Belanda mengembalikan kedaulatan NKRI pada 27 Desember 1949.

Editor : Aris S



Berita Terkait