61 Jurnalis TV Ikuti Seminar Peran Penting Jurnalis saat Pemilu di Surabaya

© mili.id

Seminar Peran Jurnalistik dan Pengukuhan Pengurus IJTI Korda Surabaya. (IJTI Korda Surabaya for mili.id)

Surabaya - 61 Jurnalis Televisi anggota IJTI Korda Surabaya, mengikuti seminar "Peran Penting Jurnalis Televisi Kawal Pemilu Damai" untuk mendapat pembekalan dan penguatan jurnalistik, serta pengukuhan Ketua IJTI Korda Surabaya, Falentinus Hartayan, periode 2023-2026.

Ketua IJTI Jawa Timur, Ahmad Wilyanto mengatakan, sejatinya jurnalis harus memiliki intelegensi dan berwawasan luas agar mendapatkan informasi.

"Soal intelegensia, jadi wartawan harus cerdas. Pasti cerdas kadang kita menggali data dari narasumber yang kita wawancara itu memunculkan sesuatu yang baru, yang bisa kita gali lagi. Contoh misalnya bencana banjir kemudian ada bantuan tidak sampai, bantuan tidak ada, berarti ada masalah tentang anggaran, bisa kita gali lagi. Salah satu contoh aja apa yang disampaikan narasumber tidak kita telan mentah-mentah. Hal ini tidak bisa kita lakukan jika kita tidak memiliki kecerdasan yang baik," jelas Wilyanto, Kamis, (30/11/2023).

Wilyanto menambahkan, wawasan luas wajib dimiliki seorang jurnalis agar mengetahui informasi terkini. Diskusi bersama pakar juga bisa dilakukan untuk menambah pengetahuan.

"Wawasan luas wajib, sering baca koran, sering diskusi dengan pak Suko. informasi terbaru dan sebagainya penting sekali menjadi dasar kita untuk meliput. Terkait politik misalnya, baca buku, baca berita lain, lihat televisi lain itu penting," terangnya.

Terdapat tiga peran jurnalis yang sebagaimana tertulis di UU Pers 40 Tahun 1999, yaitu memberikan informasi, memberikan edukasi kepada publik dan melaksanakan kontrol sosial.

Sementara itu, ada skill yang terdiri dari kemampuan menulis, kemampuan teknis dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digunakan untuk mewujudkan tiga peran sebelumnya.

Pakar komunikasi politik Universitas Airlangga, Suko Widodo, menyampaikan bahwa bisa menulis menjadi syarat utama seorang jurnalis.

"Apa yang dikatakan mas Wily itu penting. Wartawan gak bisa nulis, wis muliho ae bakul telo, (Red: pulang saja jual singkong)," ujar Suko Widodo sembari bergurau.

Suko Widodo mendorong para jurnalis profesional menjadi guru di sekolah, sehingga para pelajar bisa mendapatkan ilmu jurnalistik agar mengurangi kecenderungan terhadap media sosial langsung dari ahlinya.

"Temen-temen saya banyak bergaul dengan para kepala sekolah, Dinas Pendidikan dan sekolah taruna. Anak-anak SMA harus belajar berjunalistik bukan ber-TikTok. Medsos itu, harus diisi, kalau bisa semua teman teman mengajar di sekolah. Itu harus ada kontrak dengan sekolah, akan menjadi luar biasa. Kita bagi kerjasama, saya dorong itu. Lingkungan dan pendidikan harus good news from East Java, tapi kita harus baca buku belajar dan jadi guru teman teman," seru Suko.

Menurutnya, rekan media juga bisa menjadi dosen tamu di berbagai Universitas Jatim.

"Dosen-dosen komunikasi mereka tidak tau teknik semacam itu (red: teknik jurnalistik). Karena itu, semua kampus mengadopsi dari Anda. Bikin kurikulum dan anda harus menjadi dosen tamu di semua Universitas di Jawa timur ini. Gak papa lakukan, kita harus naik kelas," pungkasnya.

Tak hanya itu, Musyawarah IJTI Korda Surabaya dilakukan untuk memilih ketua IJTI Korda Surabaya periode 2023-2026.

Hasilnya, dengan perolehan 26 suara dari 41 Pemilih, Jurnalis Metro TV Falentinus Hartayan terpilih sebagai ketua IJTI Korda Surabaya 2023-2026, menggantikan Jurnalis Transmedia, Lukman Rozaq.

Pengukuhan juga dilaksanakan pada Kamis Malam, dihadiri oleh Sekda Kota Surabaya, Ikhsan beserta para Pimred dan Kepala Biro Televisi di Jawa Timur.

Editor : Achmad S



Berita Terkait