225 Petani Kopi Jember Mendapat Pelatihan Pengolahan Hasil Panen

© mili.id

Pelatihan pengolahan biji kopi, sehingga para petani tidak hanya menjual gelondongan saja.(Foto Atta for mili.id)

Jember - Tercatat 225 petani kopi yang tergabung dalam 15 Kelompok Tani Hutan (KTH) di wilayah Jember mendapat pelatihan pascapanen kopi.

Adanya pelatihan yang dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia milik PT. Riset Perkebunan Nusantara di wilayah Kecamatan Jenggawah, Jember ini agar para petani kopi itu memiliki kemampuan lebih dalam mengolah biji kopi yang dipanen.

Sehingga saat dalam kurun waktu setahun dua kali panen, mereka tidak hanya menjual dalam bentuk gelondongan dan bahkan dimonopoli oleh tengkulak.

Pelatihan pengolahan biji kopi, sehingga para petani tidak hanya menjual gelondongan saja.(Foto Atta for mili.id)Pelatihan pengolahan biji kopi, sehingga para petani tidak hanya menjual gelondongan saja.(Foto Atta for mili.id)

"Adanya pelatihan ini, setelah kami mengidentifikasi potensi tegakan kopi di wilayah Jember. Petani itu hanya melakukan aktifitas dan berkegiatan di kawasan hutan dalam wilayah bertani saja. Mereka (petani) menanam kopi, namun masih dalam tingkat budidaya saja. Tetapi belum sampai ke pengolahannya," kata Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Jember Didik Triswantara saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Jumat (1/12/2023).

Dengan adanya identifikasi yang dilakukan itu, kata Didik, dirasa perlu untuk dilakukan peningkatan potensi bagi petani. Dari biji kopi yang dipanen tidak hanya dijual hanya dalam bentuk gelondongan.

"Sehingga dilakukan pelatihan pengolahan pascapanen kopi ini. Harapannya mereka punya sedikit tambahan wawasan dan teknik bagaimana pengolahan pascapanen kopi yang tidak hanya terbatas pada bijinya saja," ujar Didik.

Dalam pelatihan yang dilakukan, lanjutnya, ada dua materi yang diberikan. Pertama yakni dari bagaimana nantinya bisa mengetahui teknik meroasting kopi itu. Karena selama ini para petani masih menggunakan teknik manual.

Harapannya nanti bubuk kopi yang dihasilkan oleh mereka cita rasanya sudah memenuhi kriteria standar.

Kemudian mereka juga diajari terkait dengan bagaimana mengetahui citarasa kopi. Terkait potensi kopi yang ada di wilayah Kabupaten Jember, lebih lanjut kata Didik, jenis kopi yang berkualitas adalah robusta dan arabika.

Juga ada, katanya, sekitar 41 ribu hektare yang nantinya akan diberikan persetujuan pengelolaan lahan kepada masyarakat di wilayah hutan.

"Dengan diwadahi oleh KTH, mereka bisa berkegiatan, mereka (petani) bisa berbudidaya dengan hutan sesuai dengan regulasi yang ada. Syaratnya harus tergabung dengan tani hutan. Mereka sudah lama dan turun temurun di dalam kegiatan dan pengawasan di hutan, yang selama ini mereka bekerjasama dengan Perum Perhutani," paparnya.

Masih menurut Didik bila ada kebijakan pemerintah, untuk memberikan akses legal kepada masyarakat hutan untuk berkegiatan atau mengelola kawasan hutan. Untuk potensi kopi, ini mulai dari ujung barat (Kecamatan) Sumberbaru, sampai di wilayah (Kecamatan) Silo yang memang potensial daerah kopi.

Selanjutnya dari kegiatan pelatihan ini, Didik menambahkan dimungkinkan juga untuk pelatihan lanjutan. Terkait bagaimana standarisasi dari kopi yang nantinya sudah siap dalam bentuk bubuk.

"Untuk kebijakan (dimungkinkan) tahun depan, makanan yang diedarkan kan harus puny sertifikat halal. Langkah selanjutnya kami akan memberikan fasilitas bagaimana teman-teman masyarakat desa hutan ini produk yang dihasilan ada serifikat halalnya dan perizinan nomor induk usaha. Nanti juga akan kita fasilitasi," tuturnya.

Dalam kegiatan pelatihan ini, Dinas Kehutanan Wilayah Jember dibawah Pemprov Jatim, juga melakukan kolaborasi dengan DPRD Provinsi Jatim.

Adanya kemanfaatan yang didapat oleh dua ratus lebih petani kopi di Jember itu. Menurut Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jatim Dapil Jember-Lumajang H. Satib, juga dari kajian dan serap informasi yang dilakukan pihaknya dengan para KTH.

"Jadi dari sering komunikasi dengan teman-teman dari LMDH (KTH). Dari tahun ke tahun itu kurang begitu ada peningkatan yang signifikan. Nah setelah dari sering komunikasi itu, terungkap ada kurang soal edukasi tentang peningkatan kualitas," kata Satib saat dikonfirmasi terpisah.

Selanjutnya dengan persoalan itu, lanjut Satib, pihaknya melakukan koordinasi dengan pihak eksekutif Pemprov Jatim. Diketahui ada salah satu program di Dinas Kehutanan itu namanya peningkatan mutu pasca panen kopi.

"Nah dari sinilah kemudian saya berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan Jawa Timur, akhirnya diprogram dan dilakukan kegiatan pelatihan semacam ini," ujarnya.

Namun demikian, kata legislator dari Gerindra ini, dari program kerja yang dilakukan. Pihaknya tidak ingin berhenti pada proses pelatihan saja, namun berlanjut pada tahapan progres tentang bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi yang berada di wilayah hutan.

"Sehingga tidak lagi memproduksi kopi sampai hasil pertanian saja, tapi bisa semacam menjadi perusahaan manufacturing dalam skala kecil. Atau mungkin Industri Kecil Menengah (IKM). Sehingga bisa ditangani dari hulu sampai hilir kemanfaatan dari petani ini," ucapnya.

"Lebih lanjut mungkin nanti juga akan dilanjutkan dengan pengadaan peralatan (proses lanjutan pengolahan biji kopi), yang kemudian diajukan ke Pemprov Jatim," pungkasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait