Mengenal Sarijo, Dalang Cilik dari Pelosok Dusun Talun Sudo Mojokerto

© mili.id

Sarijo (kanan) bersama Didik, ayahnya dan temannya (Foto: Nana/mili.id)

Mojokerto - Siapa sangka di pelosok Dusun Talun Sudo, Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto tersimpan aset bangsa dan generasi penerus budaya Bangsa Indonesia.

Aset itu bernama Pasya Raskha Syailendra. Meski usianya masih 10 tahun, dia menjadi dalang cilik, dengan nama panggung Sarijo.

Siswa kelas IV SDN Banyulegi, Dawarblandong itu merupakan putra dari seorang dalang yang sudah malang melintang di Jawa Timur sejak Tahun 2002, yaitu Didik Sasmito Aji (43).

Darah seni rupanya mengalir kuat ke dalam diri Sarijo. Sejak masih duduk di bangku TK, Sarijo memang menyukai jaran kepang dan barongan.

Baru pada usia 8 tahun atau kelas II SD, ketertarikannya terhadap wayang kulit mulai menggeliat. Ini setelah Sarijo menyaksikan pertunjukan wayang di Taman Budaya Surabaya-Cak Durasim bersama sang ayah dan ibunya Denok Agustina (41).

"Sebelumnya malah tidak senang wayang, sukanya jarang kepang, barongan dari TK sampai kelas I. Terus saya ajak nonton wayang ke Taman Budaya. Itu dia mengikuti alur cerita lakon itu, pulang dari sana ditanya terus sampai rumah alur ceritanya. Terus telepon sendiri sama dalangnya. Itu dia mulai senang dengan wayang," terang sang ayah, Selasa (12/12/2023).

Sarijo dinobatkan sebagai dalang terbaik dalam Festival Budaya 2023 di Grand Final Airlangga Dalang Terbaik beberapa waktu lalu (Foto: Nana/mili.id)Sarijo dinobatkan sebagai dalang terbaik dalam Festival Budaya 2023 di Grand Final Airlangga Dalang Terbaik beberapa waktu lalu (Foto: Nana/mili.id)

Hingga kini, hampir setiap hari Sarijo melatih diri tanpa paksaan. Tabuhan kendang yang diikuti instrumen gamelan terdengar harmoni dari luar kediamannya saat menemaninya melakonkan tokoh pewayangan kegemarannya di balik kelir layar tempat memainkan wayang kulit.

Bocah bertubuh gemoy ini terlihat secara perlahan memilih lakon wayang dari kotak tempat penyimpanan ratusan pewayangan milik ayahnya. Saat ini, ia sangat menyukai tiga lakon sosok pewayangan, yaitu Gatotkaca, Antasena, dan Antareja.

"Soalnya Gatotkaca bisa terbang, Anteraja bisa tembus bumi, sama Antasena kebal dan bisa tembus ke bumi," ucap Sarijo sembari memainkan lakon kegemarannya.

Dengan cekatan jari jemarinya memainkan lakon saat sabetan maupun perangan, yang merupakan beberapa ekspresi dalang lewat gerak wayang sesuai dengan karakter tokoh dan suasananya. Sesekali telapak kakinya dengan lugas memainkan keprak pertanda lakon peperangan dimulai.

Bakat alami terlihat jelas dalam penampilannya dan terus diasahnya setiap hari sepulang sekolah, meski hanya satu jam. Keinginan kuatnya menjajaki jejak sang ayah rupanya didukung keluarga besar yang memiliki darah seni.

"Latihan tiap hari di rumah, itu peran dan suluk. Biasanya mulai 11 siang sehabis pulang sekolah. Tapi ini baru mau mulai jam 12 an. Diajarinya sama Mas Naufal dan ayah," tambah bocah yang mengidolakan Dalang Ki Seno Nugroho, Dalang Kangkung, dan sosok ayahnya tersebut.

Sarijo semakin merasa ada keseruan tersendiri sejak ia mengikuti jejak sang ayah, utamanya saat menjadi asisten dalang Tahun 2023 ini. Ia kerap nyantri saat Dalang Didik mendapatkan job wayang di sejumlah daerah di saat anak-anak seusianya asik bermain. Seperti Gresik, Lamongan.

Sarijo saat memainkan sebuah lakon wayang kulitSarijo saat memainkan sebuah lakon wayang kulit

Keinginan kuat ini pun akan terus diasahnya agar bisa mengikuti jejak sang ayah yang sudah 21 tahun malang melintang menjadi seorang dalang asal Bumi Majapahit.

"Pengen ngikutin jejak ayah, seru saja," ujarnya.

Sang ayah pun berharap, kemampuan alami putranya ini bisa membuat bangga bangsa dalam melestarikan budaya asli Indonesia yang kini mulai dimakan waktu, tergeser budaya asing.

"Bangga sekali semoga bisa melestarikan bangsa ini dan bisa meneruskan bakat orang tuanya. Tentunya juga semakin berprestasi," tutur Didik.

Didik berharap, ke depan pemerintah bisa memfasilitasi pelestarian pewayangan di Indonesia melalui ekstrakurikuler di jenjang SD hingga SMP. Tak lain, agar regenerasi penerus dalang tetap terjaga kelestariannya.

"Regenerasi harapan saya dari kecil di SD SMP dikasih ekstrakurikuler wayang kulit, dalam satu bulan sekali satu jam wayang kulit masuk ke sekolah. Agar diminati dan terus ada regenerasi dalang," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait