Fenomena Tawuran Remaja Mencuat di Surabaya, Pakar Sosiolog: Ujung Tombaknya Keluarga

© mili.id

Pakar Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Ali Imron. (Ist for Mili.id)

Surabaya - Fenomena tawuran remaja kembali marak di Surabaya, dalam kurun Desember 2023 ada dua kasus menonjol yang mencuri perhatian masyarakat maupun warganet. Tak pelak, kembalinya fenomena tersebut membuat masyarakat takut dan resah.

Kasus pertama terjadi di Jalan Kenjeran pada Sabtu (9/12/2023) kemarin, seorang siswa berinisial MA (15) asal Jalan Kapasari Pedukuhan V, tewas setelah dibacok lawannya. Lima orang telah ditetapkan oleh Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Sementara baru-baru ini yang turut mencuri perhatian publik, yakni konvoi kelompok All Star KBD (Kota Baru Driyorejo). Puluhan remaja hingga pemuda itu konvoi sambil bawa sajam dan masuk ke Surabaya, tepatnya di wilayah hukum Polsek Karangpilang.

Video konvoi berdurasi 52 detik itu tersebar ke sosial media. Unit Reskrim Polsek Karangpilang akhirnya melakukan penyelidikan. Akhirnya, 7 dari puluhan orang di video tersebut dapat diciduk pada Rabu (13/12/2023) sore.

Menyikapi fenomena tersebut, Pakar Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Ali Imron menjelaskan, faktor penyebab seorang remaja berperilaku menyimpang dari norma di masyarakat ialah lemahnya sosialisasi di lingkup keluarga.

"Faktornya itu bisa macam-macam, salah satunya adalah faktor lemahnya fungsi sosialisasi dalam keluarga. Jadi, kalau fungsi sosialisasi di keluarga lemah, maka seorang anak itu akan mencari identitas di luar," katanya kepada mili.id, Kamis (14/12/2023).

Dalam pandangan sosiologi, fenomena ini disebutnya sebagai in-grup yang berarti mereka memiliki kesamaan karakter dan kesamaan tujuan, kemudian mereka membentuk dan membangun kelompok sosial.

"Cuma persoalannya, mereka itu memiliki aktifitas yang negatif, aktifitas yang menyimpang. Artinya, aktifitas mereka itu bertentangan dengan norma dan nilai yang ada di masyarakat, salah satunya tindakan kriminal, tindakan kejahatan bahkan sampai melukai korbannya," tambahnya.

Oleh sebab itu, lemahnya sosialisasi dan edukasi di lingkup keluarga yang sebetulnya sebagai ujung tombak, menyebabkan seorang remaja terkadang mencari lingkup sosial lain.

"Persoalannya adalah, ketika mereka interaksi dengan lingkungan yang menyimpang, maka dia akan belajar tentang kebudayaan yang menyimpang. Sehingga, faktor penyebabnya adalah sosialisasi di lingkungan keluarga yang berjalan tidak sempurna," lanjutnya.

Menurutnya, ada beberapa langkah yang dapat mencegah seorang anak agar tidak terjerumus ke lingkup sosial yang menyimpang, salah satunya dengan merevitalisasi sosialisasi dan edukasi di lingkup keluarga.

"Kalau kita ingin memperbaiki maka ujung tombak utama itu ada di keluarga, itu yang harus diperkuat. Jadi fungsi sosialisasi keluarga itu harus di revitalisasi, penguatan fungsi di dalam keluarga," tuturnya.

Sedangkan, masyarakat juga memiliki andil dalam mengendalikan lingkungan sosial melalui dua cara, yakni preventif dan represif.

"Kalau preventif, kan artinya pencegahan. Bisa melalui sosialisasi, edukasi dan seterusnya. Tapi kalau sudah represif, itu sifatnya kuratif. Jadi, ketika ada masalah maka harus di kendalikan," paparnya.

Namun, dalam hal tersebut yang boleh bertindak represif ialah lembaga negara, dalam hal ini adalah pihak kepolisian. "Sehingga kasus-kasus seperti ini pada akhirnya polisi yang harus turun tangan. Saya melihat beritanya, polisi sudah melakukan tindakan-tindakan itu," pungkasnya.

Editor : Achmad S



Berita Terkait