FMD Berharap Pemkot Surabaya Membuka Lowongan Pekerjaan untuk Disabilitas

© mili.id

Esti Yuniarti, Founder Fira Modelling Disabilitas (FMD) dan Pengajar Modelling di Rumah Anak Prestasi, di Area Museum Pendidikan setelah mengajar modelling, Kamis (14/12/2023).(Foto: Shella/mili.id)

 

Surabaya - Esti Yuniarti, Founder Fira Modelling Disabilitas (FMD) di Surabaya, berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat membuat lowongan pekerjaan dan anak-anak disabilitas dapat berpartisipasi dalam kegiatan pemerintahan.

"Lapangan pekerjaan sama tempat kalau kita ada event-event. Juga eventnya pemerintahan, jangan lah reguler tok yang dilibatkan, paling gak disabilitas diajak. Kan kita menunjukkan ke masyarakat bahwa anak-anak ini juga bisa tampil bagus, tampil kolaborasi dengan anak-anak reguler," ungkap Esti Yuniarti, Kamis (14/12/2023).

3 Desember lalu merupakan Hari Disabilitas Sedunia, Esti mengungkapkan melalui sisi fashion dan modelling, anak disabilitas dapat dikatakan telah setara dengan anak reguler.

"Alhamdulillah sudah bisa sejajar, walaupun tidak melebihi ya. Jadi untuk fashion untuk modellingnya itu bisa setara, sama anak-anak reguler. Seperti tampil di atas panggung. Juga mereka bisa rapi kaya anak-anak reguler," jelas Esti.

Menurutnya, beberapa waktu ini pemerintah telah lebih banyak memberi kesempatan. Meskipun ia masih merasa kekurangan tempat untuk anak-anak disabilitas fashion show di panggung.

"Sekarang sih kayanya Alhamdulillah pemerintah sudah lebih banyak memberi kesempatan, memberi tempat untuk mereka tampil. Untuk tempat sih ya masih kalah sama anak reguler sih ya, tempat manggung, atau ada acara apa, kan mereka lebih banyak anak regulernya daripada disabilitas," tuturnya.

Tak hanya seorang Founder dan melatih di FMD, perempuan berkerudung ini juga mengajar modelling di Rumah Anak Prestasi (RAP) Surabaya, mengaku banyak muridnya yang telah lulus dari bangku SMA, dan membutuhkan pekerjaan.

"Lapangan pekerjaan yang masih betul-betul kita tuh butuh banget, untuk anak-anak ini. Tapi sekarang pemerintah masih berusaha, katanya sih saya denger dari pak wali, untuk tahun depan atau kapan gitu, memberikan anak-anak disabilitas kesempatan di pemerintahan kalau gak salah," katanya.

"Nah itu mudah-mudahan aja. Karena murid-murid saya kan banyak yang udah lulus. Dari SMA banyak yang udah lulus, entah autis atau tuna rungu itu mau diapakan, kan susah," imbuhnya.

Sementara itu, ia juga bersyukur dengan adanya RAP. Karena, pelatihan modelling dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak. Modal utama agar berani bersosialisasi.

"Kalau di modelling saya sendiri, inti dan pokoknya itu saya mengajarkan untuk percaya diri. Modal utama daripada lainnya, karena dengan kepercayaan diri dan keberanian, dia mau apa aja bisa dan berani," ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa untuk metode yang diperlukan terhadap anak-anak disabilitas harus konsisten. Jika tidak, maka akan mengulang lagi dari awal.

"Semua anak itu harus konsisten, jadi kalau udah selesai (pelatihannya) mereka tidak dikonsistenkan, tidak belajar lagi, walaupun di rumah, tetep balik lagi. Akan ngulang lagi, balik seperti awal,"

Ia menyebut peran orang tua harus mendukung agar hasilnya maksimal. "Peran orang tua harus 95 persen, karena walau mereka diajarin di RAP/FMD itu cuma berapa jam, dibagi berapa orang. Nah itu kalau misalnya orang tuanya gak mendukung juga akan ada hasilnya. Orang tua harus mendukung, mau gak mau harus ngajarin di rumah, tanpa bantuan orang tua gak akan ada apa-apa," pungkasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait