Geliat Terapis Plus di Banyuwangi, Wanita Ori Disaingi Kaum Pelangi

© mili.id

Ilustrasi pijat plus plus. Freepik.com

Banyuwangi - Dunia malam di kota beranjak maju tak hanya diskotek atau bernyanyi bersama pemandu lagu di tempat karaoke.

Ada pula yang menghabiskan malam dengan menyewa jasa terapis plus. Lebih privat.

Di Kabupaten Banyuwangi fenomena ini semakin menggeliat. Karena semakin marak dan mudah diakses melalui aplikasi inisial MC. Dikenal juga dengan aplikasi ijo.

Tawaran halus diawal jadi modus terbaik para penjaja jasa penyasar pria hidung belang.

Misalnya di wilayah Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi. Sudah banyak penyedia jasa pijat 'enak' berkumpul di radius terdekat dari si pengguna aplikasi.

Ada yang berjarak hanya 300 meter dan paling jauh hanya 4 kilometer saja.

Namanya juga terapis plus. Tentunya ada layanan lain selain pijat penghilang pegal.

Biasanya, mereka menyebutkan daftar jasa di awal. Tinggal copy paste setiap ada yang bertanya.

Ada pula yang menggiring pembahasan transaksi saat bertemu di kamar. Lebih aman bagi mereka.

Tarif pijat pegal biasa di kisaran Rp 200 ribu - Rp 350 ribu saja. Ini bagi wanita orisinil.

Jika naik level hingga 'mantap-mantap', nominalnya melambung kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 1 juta.

Ada harga, ada barang. Tentu yang harga tembus satuan juta perwujudannya istimewa.

Menariknya, modus transaksi online ini semi terbuka.

Lazimnya, penyedia jasa rawan terjaring razia ini akan mengaburkan identitasnya, sehingga tidak gampang terlacak.

Tapi yang terjadi justru banyak dari mereka mencantumkan nama asli sesuai KTP di aplikasi Ijo. Walaupun hanya nama pendeknya saja.

Misalnya SN. Dia menyematkan nama N di aplikasi itu.

Ada juga wanita lain yang memiliki nama panjang berinisial ER.

Ia selayaknya bukan dari suku Jawa. Terlihat dari nama keluarga (marga) di ujung belakang maupun perawakan tubuhnya.

"Bisa apa aja. Mau full atau cuma pijat biasa, mas," jawab ER via chat aplikasi.

Saat itu, ER stay di sebuah hotel G di Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi.

Informasi didapat, mereka sengaja menyewa satu kamar hotel lalu menjajakan jasa berjam-jam di kamar tersebut.

"Tapi bisa panggilan juga kok. Kamu yang ke sini atau aku yang ke sana," terangnya.

Untuk meyakinkan calon pembeli, ER ogah menerima down payment (DP) via transfer.

"Cash di kamar saja," tegas wanita dengan kulit putih, mata sipit dan berambut hitam lurus ini.

Lain halnya dengan SN. Dia meminta adanya DP minimal Rp 150 ribu via transfer sebelum meluncur ke tempat pertemuan.

"Rp 150 ribu via DANA. Sisanya kalau sudah selesai," tulis SN yang mengaku kala itu juga stay di hotel G.

Wanita lainnya yakni IN lebih halus modus operandinya.

Dia mencantumkan nomor DANA atas nama orang lain. Namun nomor itu tidak terkoneksi dengan WhatsApp.

"Chat via aplikasi ini saja," jawab IN ketika diminta lanjut japri via WA.

Berbeda dengan ER dan SN, IN malam itu stay di hotel K. Letaknya lebih ke timur dari hotel G.

"Siap otw kalau sudah transfer, mas," janjinya.

Varian bisnis khusus kalangan dewasa ini tidak hanya heterogen, tapi juga homogen.

Beberapa akun dengan lugas menyematkan identitas bahwa dirinya transgender alias waria.

Salah satunya Dewi. Tentu saja bukan nama aslinya kendati ia berpenampilan selayaknya wanita.

Ia mematok tarif Rp 150 ribu saja bagi pria mabuk kepayang dan hilang akal sehat serta terindikasi terjangkit kelainan seksual.

Bahkan, Dewi mencantumkan sertifikat terapis resmi di galeri fotonya untuk membuktikan bahwa pijatannya bakal membuat pelanggan puas.

Di sertifikat itu, Dewi mencoret bagian nama lengkap dan foto profilnya. Menghindari ironi identitas konyol pada dirinya sendiri.

Editor : Aris S



Berita Terkait