Gereja Santo Yusup Jember Sulap Ribuan Bongkol Jagung jadi Pohon Natal

© mili.id

Panitia Natal Gereja Santo Yusup membuat dan menghias pohon Natal di depan Gereja (M.Hatta for Mili.id)

Jember - Umat Kristen dari Gereja Santo Yusup Jember merayakan Natal Tahun 2023 dengan membuat pohon Natal yang dikombinasi dengan kandang.

Menggambarkan Tuhan Yesus Kristus saat turun ke Bumi dan memberikan berkahnya kepada seluruh umat Kristen di Bumi.

Untuk perayaan Natal tahun ini, di Gereja Santo Yusup Jember. Konsep pohon Natal yang didirikan adalah kombinasi dan hasil pertanian jagung, singkong, labu kuning, dan kelapa.

Menurut Ketua Panitia Natal 2023 Maria Agustina Eka Ningrum, sebagai bentuk tema perayaan tahun ini untuk mengajak umat Kristen merawat bumi dan isinya.

"Adanya pohon Natal dan kandang ini, konsepnya berdasarkan dari tema perayaan Natal 2023. Yaitu Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi. Tema ini kami ambil sebagai bentuk kembali ke alam. Sehingga semua bahan-bahan (membuat dan menghias) pohon Natal dan kandang ini semua dari alam," kata perempuan yang akrab disapa Tina ini saat dikonfirmasi disela pengerjaan pohon Natal, Sabtu (23/12/2023).

Dibutuhkan lebih dari 1.000 bongkol jagung dan hasil pertanian lainnya, kata Tina, untuk mendirikan lohon Natal setinggi 9 meter yang berdiri tegak di halaman depan Gereja Santo Yusup Jember.

"Untuk lebar di bawahnya dikombinasi dengan kandang menggambarkan tempat kelahiran Yesus Kristus selebar 3 - 4 meter. Pohon Natal ini, untuk Jagung juga sekaligus dengan bongkolnya. Bertujuan agar pohon Natal ini awet. Juga agar tampak indah didekorasinya," ujar Tina.

Membutuhkan waktu kurang lebih 3 minggu untuk menyulap dekorasi pohon Natal dan kandang ini, lanjutnya, dan untuk pengerjaan dilakukan oleh para pemuda gereja.

"Untuk yang bekerja ini, adalah kolaborasi dari OMK (Orang Muda Katolik) wilayah Santiago Paroki Santo Yusup, juga dibantu oleh bapak-bapak dan ibu-ibu Paroki Santo Yusup Jember," ujarnya.

"Untuk jagung ini kami usahakan didapat dari pihak gereja, juga ada yang sumbangan dari hasil pertanian, termasuk jerami dan lainnya. Kebetulan ada teman yang punya kebun dan kami saling memberikan keuntungan dengan membeli hasil kebunnya untuk jadi Pohon Natal ini," imbuhnya.

Tina juga menambahkan, terkait konsep pohon Natal yang didirikan itu. Juga dikombinasikan dengan budaya Jawa yakni semacam sesajen gunungan.

"Filosofinya khas Jawa, yakni mirip Gunungan sebagai bentuk (syukur) atas hasil bumi," ucapnya.

Sementara itu, menurut Romo Paroki Santo Yusup Jember Yoseph Utus O,Carm. Adanya pohon Natal adalah bentuk bagian perayaan yang setiap tahun selalu ada. Dengan tema tentang mencintai alam, bertujuan untuk mengajak umat Kristiani agar merawat bumi dan isinya.

"Konsepnya adalah kembali ke alam, bagaimana kita dalam Tema Natal 2023 ini mengingatkan umat Kristen untuk merawat alam dan memeliharanya. Itulah yang menjadi dasar pembuatan pohon Natal ini. Apalagi kita sadari Bumi saat ini (cuaca dan hawanya) panas sekali," kata Romo Yoseph.

"Alam kita rawat dan akan sangat dekat dengan kita. Jika kita merawat alam, maka Tuhan akan mencintai kita, dan juga mencintai alam semesta ini. Itu filosofi dan maknanya. Dengan tingginya pohon Natal ini, juga memiliki makna untuk kita ingin lebih mendekat kepada Tuhan. Hiasan Bintang di atas pohon Natal ini layaknya Tuhan, yang selalu hadir menerangi kita dan maknanya, kita Umat ini juga bisa menjadi bintang bagi alam ini," ulasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait