Liburan Bernostalgia di Pasar Jadul Lidah Ndonowati Surabaya

© mili.id

Suasana Pasar Ndonowati yang buka setiap Sabtu-Minggu, di Lidah Wetan XI Surabaya, Minggu (24/12/2023).(Foto: Shella/mili id)

Surabaya - Warga Surabaya dapat bernostalgia jadul, melalui pasar tempo dulu di Pasar Lidah Ndonowati, Jalan Lidah Wetan XI, Surabaya.

Ketua Paguyuban Perekonomian Mandiri, Budi Kiswono, menyebut pasar ini telah dibuka sejak minggu lalu, pada 16-17 Desember 2023. "Ini sebenernya season kedua, season pertama minggu kemarin, pembukaan. Jadi tanggal 16-17 itu season pertama," ungkap Budi Kisnowati di Pasar Lidah Ndonowati, Lidah Wetan XI, Surabaya, Minggu (24/12/2023).

Salah satu tenant di Pasar Lidah Ndonowati, yang menjual berbagai makanan tradisional, di Lidah Wetan XI Surabaya, Minggu (24/12/2023).(Foto: Shella/mili.id)Salah satu tenant di Pasar Lidah Ndonowati, yang menjual berbagai makanan tradisional, di Lidah Wetan XI Surabaya, Minggu (24/12/2023).(Foto: Shella/mili.id)

Budi menyampaikan bahwa Pasar Lidah Ndonowati ini memiliki konsep jadul, terdiri dari sekitar 30 tenant, dengan menjual makanan tradisional seperti, gethuk, semanggi, cenil, nasi jagung dan sebagainya.

"Sementara ada 30 Tenant, itu kan dari warga sini semua. Di fokuskan di warga sini semua. Karena apa ya tujuan utama kita tadi apa, untuk meningkatkan perekonomian sini lokal," jelas Budi.

Pasar Lidah Ndonowati yang buka sejak minggu lalu ini, ia mengatakan akan direncanakan rutin dibuka setiap Sabtu pukul 15.00 - 22.00 WIB, dan Minggu pukul 07.30 - 12.00 WIB.

"Rencananya sih sementara ini, untuk traffic yang dilihat kan masih lumayan ya. Jadi Insyaallah Sabtu Minggu masih rutin," papar dia.

Ia juga menambahkan salah satu keunikan pasar Lidah Ndonowati ini, menggunakan keping untuk bertransaksi. Satu keping setara dengan Rp. 2000. Para pengunjung dapat menukar uang di pintu masuk.

"Makanya kita bikin alat tukar yang mengesankan, biar ada yang membedakan dengan pasar yang lainnya. Kalau pasar lainnya jual gini gitu terus bayarnya biasa aja. Tapi kalau kita disini jualnya ya jualan tradisional semuanya. Jadi orang-orangnya nanti bernostalgia dengan menu menu kita. Terus kalau pembayaran kita juga bikin koin-koin seperti itu, dengan tujuan ini ada bedanya, ini pasar kita," tuturnya.

Transaksi menggunakan kepingan, tak hanya sebagai ciri khas Pasar Lidah Ndonowati, ia mengaku agar perincian dan perkembangan para pedagang bisa lebih diorganisir.

"Jadi lihat perkembangannya pedagang kalau kita kumpulkan semua, kan kita tahu perkembangannya pedagang. Jadi tahu oh pedagang ini jualannya rame apa nggak, misalkan rame nanti kita bantu apa, misalkan sepi kita support apa, seperti itu," ujarnya.

Kedepannya, pihaknya akan memperluas area permainan untuk anak-anak. Sebab, target pasar Ndonowati merupakan keluarga.

"Target kita kan keluarga, kepada keluarga kan masih lengkap pada ayah ibu untuk makan, kalau ada tempat bermain anak bermain kan ayah ibu makan enak. Itu kita pegang juga, makanya konsep playground zaman dulu itu masih kita cari-cari, jadi rencana seperti itu juga," katanya.

Sementara itu, ia memaparkan asal usul nama Pasar Lidah Ndonowati. "Jadi kenapa namanya apa pasar Lidah Ndonowati, ya karena nama kita dulu Lidah Ndonowati. Pada zaman zaman kerajaan dulu namanya Lidah Ndonowati. Makanya kita namakan pasar Lidah Ndonowati," paparnya.

Ia berharap dengan adanya Pasar Lidah Ndonowati ini, warga kampung dapat semakin guyub rukun. "Bisa guyub rukun, bisa kerja bareng seperti ini kan enak. Karena dari guyub rukun itu nanti kita kerja itu lebih enak. Kita minta guyub rukun aja deh gak neko-neko," harapnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait