Film Dokumenter Siswa SMPN 8 Kota Probolinggo Kalahkan 42 Negera di FFD 2023

© mili.id

Perwakilan SMPN 8 Kota Probolinggo saat berswafoto dengan peserta lain.(Foto:M Fades/Mili.id)

Probolinggo - Siswa-Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 8 Kota Probolinggo menorehkan catatan cemerlang. Hal itu setelah film dokumenter berjudul 'Pasar Tanpa Uang' yang diproduksi Wolucinema itu masuk dalam nominasi Festival Film Dokumenter (FFD) 2023 Yogyakarta.

Film dokumenter ini karya 9 siswa-siswi SMPN 8 kota Probolinggo. Dalam film ini mencerikatan seorang pemuda hidup di jalanan, kemudian menginisiasi melakukan aksi sosial berbagi kepada masyarakat sekitarnya tanpa pandang bulu dan mengharap balas budi.

Diangkatnya film yang disutradarai Suci Dian Kuspitaningsih, pelajar kelas IX, saat sedang nongkrong dan ngopi bersama sejumlah teman komunitas yang salah satunya penggagas Pasar Tanpa Uang saat Covid-19. Hingga kemudian tertarik dan tercipta film dokumenter.

"Alasan kenapa saya membuat film ini karena ada pesan sosial dimana penonton film ini dapat melakukan hal sosial yang sama seperti penggagas "Pasar Tanpa Uang" yang dianggap sampah, dan akhirnya berhasil melakukan aksi sosial," kata Suci, Selasa (9/1/2024).

Pembuatan film dokumenter perdananya ini, lanjut Suci, tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai kesulitan mulai dirasakan, mulai dari pengambilan gambar sering salahpaham dan miskomunikasi hingga tempat pengambilan di tempat yang sulit dijangkau.

Namun, menurut Suci, hal tersebut terbayar lunas dan perjuangannya tidak sia-sia setelah film dokumenter gagasannya masuk dalam 5 besar dan mengalahkan 84 film dokumenter dari 42 negara dalam FFD 2023 di Yogyakarta.

"Saat mendapat informasi tersebut saya bersama yang lain sempat nangis, karena film dokumenter yang kita buat berhasil masuk nominasi, dan pencapaian ini merupakan pencapaian terbesar kami," ungkapnya.

Sementara, Kepala Sekolah SMPN 8 Zaki Irfan mengatakan, suport dari pihak sekolah sendiri terus dilakukan baik suport secara materiil, maupaun inmeteriil, dimana untuk materiil, terkait anggaran karena film ini sudah masuk extrakulikuler salah satunya peningkatan kompetensi anak.

"Sementara untuk inmateriil, tidak hanya ketika memenangkan suatu perlombaan, namun juga suport serta motivasi dari sekolah terus diberikan kepada anak-anak. Kedepannya, juga akan ada seleksi dalam produksi film-film dokumenter lainnya" tandasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait