Suami Bunuh Istri di Jember, Pelaku Mengaku Menyesal

© mili.id

Pelaku saat menjalani pemeriksaan di Polres Jember. (Hatta/Mili.id)

Jember - Jalil, suami yang tega membunuh istrinya di Dusun Sukosari RT 005/RW 004, Desa Jatisari, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember mengaku menyesal sudah menghilangkan nyawa Miswati yang dicintai.

Korban Miswati tewas usai mengalami luka kepala usai dibenturkan ke pagar besi rumahnya saat percekcokan antara korban dan suaminya.

Saat diinterogasi polisi, Jalil hanya mampu menangis dan mengaku menyesal atas perbuatannya. Ia menceritakan kronologi terjadinya pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan korban. 

Diakui oleh tersangka, penyebab terjadinya pertengkaran itu, akibat motif cemburu tersangka kepada korban.

"Saat itu istri saya lepas baju mau istirahat, saya naruh cakul mau ambil celurit (pulang dari sawah). Tapi waktu itu (secara tiba-tiba) istri saya mau keluar ke rumah anak, tapi saya suruh duduk saja (tidak usah keluar). Kemudian saya minta sisa kopi (karena) saya capek, tapi tidak usah buat, saya minta yang sisanya pagi itu saja," ujar Jalil saat diperiksa di Mapolres Jember, Kamis (11/1/2023).

"Kemudian saya ngobrol untuk membayar uang orang (terkait usaha), jangan dijual motornya. Dijawab istri saya, sudah tidak apa-apa dijual yang penting bisa untuk bayar orang. Saya balik jawab, sudah tidak usah saya cari sendiri usaha," sambung Jalil menceritakan awal percakapan dengan korban.

Namun karena ada komunikasi yang tidak pas itu. Terjadi pertengkaran antara korban dengan tersangka. Bahkan dalam pertengkaran berujung KDRT itu, korban disiram kopi oleh tersangka.

"Setelah itu terjadi pertengkaran, saya siram kopi. Istri saya menangis. Dia bilang kamu kok tega (menyiram kopi). Saya siram kopi, karena istri saya memaksa keluar mau ke rumah anaknya (alasan korban). Saya larang karena saya capek baru pulang dari sawah. Kemudian istri saya itu keluar dari pintu samping," ujarnya bercerita.

Karena merasa tidak diindahkan nasehatnya, tersangka bermaksud mengejar korban yang keluar rumah.

"Saya kejar dari pintu depan, saya tarik tangannya. Saat terjadi saling tarik, ada anak saya datang (bermaksud melerai). Nah saat itu yang membuat saya emosi, karena istri juga (dengan berpakaian) kaos kutangan tok. Saya malu," ucapnya.

"Saat terjadi aksi saling tarik itu, istri juga menjerit (teriak). Saya semakin malu untuk mengajak masuk (terlebih tetangga dan warga mengetahui pertengkaran pasutri itu)," sambungnya.

Terkait motif cemburu, yang menjadi pemicu pertengkaran berujung KDRT itu. Kata Jalil, ada ungkapan rasa cemburu antara dirinya dengan korban.

"Saya cemburu juga, karena dulu pernah selingkuh sekitar 5 tahunan yang lalu. Saat itu saya nasehati, sudah tua sudah tobat," ucapnya.

Namun dengan kejadian pertengkaran berujung tewasnya sang istri. Berkali-kali tersangka Jalil hanya berucap menyesal dan menangis.

"Istri juga bantu saya ke sawah, kita bareng-bareng. Ya karena emosi ini, seandainya tidak terbentur ke pintu (pagar) tidak mungkin sampai begini (meninggal). Saya menyesal pak, menyesal, menyesal, karena emosi ini. Saya memang sering bertengkar dengan istri saya," ujarnya sembari menangis.

Editor : Achmad S



Berita Terkait