Puluhan Siswa SDN Dawuhan Bondowoso Mendapatkan Trauma Healing

© mili.id

Kegiatan trauma healing disertai peningkatan literasi melalui program perpus keliling di SDN Dawuhan, Kecamatan Tenggarang, Bondowoso. (Deni AW/Mili.id)

Bondowoso – Puluhan siswa SDN Dawuhan, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso mendapatkan trauma healing, Jumat (12/1/2024) pagi.

Dalam acara tersebut para siswa menerima ice breaking dan giat mendongeng. Sekitar 94 siswa juga mendapatkan tambahan literasi dari membaca buku di fasilitas perpustakaan keliling.

Kegiatan ini merupakan gabungan lintas sektoral dari Dinas Pendidikan, Dinsos P3AKB, Dispersip, Tagana dan Muspika Tenggarang.

Ahmad Syaihu, Kabid Perpustakaan pada Dispersip Kabupaten Bondowoso mengatakan, pihaknya memberikan layanan trauma healing berupa kegiatan mendongeng dan layanan perpus keliling.

“Program perpus keliling ini rutin dilakukan setiap tahun. Sekitar 160-180 kali setahun,” ungkapnya kepada Mili.id, Jumat (12/1/2024).

Pada kegiatan di SDN Dawuhan, Dispersip Kabupaten Bondowoso membawa ribuan eksemplar buku untuk para siswa.

“Kita membawa 1.500 eksemplar dan langsung diserbu oleh anak-anak,” sebutnya.

Plh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Anisatul Hamidah menerangkan, fokus utamanya untuk memastikan kegiatan belajar mengajar di SDN Dawuhan berjalan dengan baik.

“Kita pastikan anak-anak siap mengikuti ujian baik dari kelas 1 sampai kelas 6,” ulasnya.

Pihaknya juga ingin trauma healing tidak dilakukan sekali ini saja.

“Tetapi nanti misalnya ada yang sifatnya khusus, ada yang trauma tetap kita lakukan asesmen. Kalau perlu kita fasilitasi dengan psikiater,” papar Anis.

Pihaknya mengapresiasi kegiatan perpus keliling di SDN Dawuhan guna meningkatkan literasi para siswa.

“Supaya anak-anak semakin luas wawasannya. Setelah mereka membaca buku, nanti guru-guru akan menanyakan apa yang dibaca dan apa inspirasi yang diambil dari buku bacaan itu,” pungkasnya.

Kondisi siswa SDN Dawuhan ini menjadi perhatian publik setelah kisahnya viral, karena berbulan-bulan harus belajar di tempat darurat yakni di perpustakaan dan musala tepatnya sejak Maret 2023.

Keputusan pihak sekolah memindah tempat belajar mengajar ini disebabkan kondisi ruang kelas tidak layak, bahkan pada 25 Desember 2023 ambruk karena diterpa angin kencang.

Editor : Aris S



Berita Terkait