Melihat Geliat Ekonomi Kampung Tahu di Besuki Situbondo

© mili.id

Pengrajin tahu di dusun tanjung, saat membuat tahu menggunakan alat manual. (Fatur Bari/Mili.id)

Situbondo - Melihat geliat aktivitas ekonomi kampung tahu di Dusun Tanjung, Desa Jetis, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Pasalnya, sebagian besar warganya berprofesi sebagai perajin tahu.

Tercatat puluhan perajin tahu di Dusun Tanjung ini, mereka mengaku meneruskan usaha orang tuanya. Bahkan, setiap harinya rata-rata bisa memproduksi 1 kwintal kedelai. Sedangkan hasil produksi tahunya dikirim ke dua kabupaten, yaitu Bondowoso dan Kabupaten Probolinggo.

"Selain untuk memenuhi kebutuhan tahu di Situbondo, namun hasil produk tahu juga dikirim ke Bondowoso dan Kabupaten Probolinggo. Ada ratusan pengepul atau pedagang mengambil tahu di sini untuk dijual lagi ke sejumlah kabupaten tetangga," ujar salah satu perajin tahu, Rayana Senin (15/1/2024).

Pengrajin tahu di dusun tanjung, saat membuat tahu menggunakan alat manual. (Fatur Bari/Mili.id)Pengrajin tahu di dusun tanjung, saat membuat tahu menggunakan alat manual. (Fatur Bari/Mili.id)

Menurut dia, Dusun Tanjung ini disebut kampung tahu, karena disini pusat industri tahu, tercatat sebanyak 25 industri tahu ada di dusun tanjung.

"Usaha tahu ini, merupakan usaha turun-temurun, sehingga kami hanya meneruskan usaha orang tua. Bahkan, kami merupakan generasi ketiga," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jetis Fadlan menjelaskan, industri tahu di kampung tahu merupakan usaha yang sudah berlangsung turun-temurun. Banyaknya tempat usaha tahu berdampak terhadap tingginya penyerapan tenaga kerja.

Selain sebagai pekerja, sebagian dari mereka juga sebagai pedagang maupun sebagai penyuplai bahan-bahan yang diperlukan setiap industri tahu.

"Untuk desa kami, kampung tahu ini bisa dibilang tidak ada pengangguran. Mereka bekerja yang berhubungan dengan industri tahu," terangnya.

Menurut, hasil produk kampung tahu sudah dikenal luas karena memiliki cita rasa yang enak dan memiliki ciri khas tersendiri. Selain rasanya enak juga bisa bertahan selama tiga hari tanpa menggunakan bahan pengawet.

"Kami sering ikut pameran UMKM hingga tingkat provinsi. Produk tahu di tempat kami banyak diminati konsumen karena memiliki cita rasa yang enak," bebernya.

Fadlan menegaskan, untuk memanfaatkan limbah dari industri tahu, para ibu-ibu PKK sudah memproduksi industri Kerau (Kerupuk Ampas Tahu). Kerupuk berbahan utama ampas tahu tersebut mulai dikenal masyarakat luas, bahkan menjadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Situbondo.

"Sebenarnya di sini banyak produk makanan menggunakan bahan dasar tahu. Terbaru, yaitu kerupuk ampas tahu dan banyak sekali peminatnya," paparnya.

Lebih jauh Fadlan mengatakan, para pengrajin tahu disini masih menggunakan alat manual, pihaknya berharap ke Pemkab Situbondo, agar memberikan bantuan mesin ketel uap atau steam boiler.

"Kami butuh perhatian pemerintah agar industri disini terus berkembang. Kami sangat butuh bantuan mesin ketel uap agar pengelolaan industri tahu lebih modern serta meningkatkan standar mutu," pungkasnya.

Editor : Achmad S



Berita Terkait