Rumah Kontrakan Mesum di Jombang Digerebek, Dua Orang Ditetapkan Tersangka

© mili.id

Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Sukaca (Foto: Elok Apriyanto/mili.id)

Jombang - Dua orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus rumah kontrakan mesum di Jombang yang digerebek warga bersama petugas gabungan.

Rumah kontrakan di Dusun Buduran yang kamarnya disewakan untuk mesum itu digerebek Pemerintah Desa Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang bersama anggota polsek dan TNI setempat.

Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Sukaca menjelaskan, dalam penggerebekan itu diamankan 7 orang pasangan kumpul kebo alias bukan suami istri.

Baca juga: Warga Jombang Gerebek Rumah Kontrakan Sewakan Kamar untuk Mesum, Primadona Kabur

"Dari 7 pasangan itu, terdapat 5 pasangan yang usianya dewasa dan ada 2 pasangan, di mana perempuan dari pasangan tersebut masih di bawah umur," terang Sukaca di Mapolres Jombang, Selasa (16/1/2024).

Menurutnya, untuk 5 pasangan yang berusia dewasa, kini dilimpahkan ke Satpol PP Jombang. Sedangkan dua pasangan yang perempuannya masih di bawah umur, dilakukan proses penyidikan.

"Sementara dua pasang yang perempuannya masih di bawah umur, kami lakukan proses penyidikan langsung. Jadi yang bersangkutan pelakunya sudah kami lakukan penahanan dan langsung kami tetapkan tersangka. Dua tersangka ini dikarenakan pasangan perempuannya masih di bawah umur," papar Sukaca.

Dia membeberkan, tersangka pertama berinisial ID (19), asal Kecamatan Sumobito. Kemudian tersangka kedua masih di bawah umur. Dia berinisial AM, dengan umur masih 16 tahun, asal Kecamatan Kesamben.

Sedangkan untuk penyedia kamar di rumah kontrakan tersebut, yaitu Trias Primadona (35) serta calon suaminya Ivan Abdul Aziz (26) asal Desa/Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, belum ditetapkan sebagai tersangka.

"Untuk penyedia ini, kapasitasnya adalah rumah bukan rumah bordil secara legal. Kami belum bisa menentukan tersangka, kami masih berkoordinasi dan masih melakukan pendalaman dengan JPU," tegas Sukaca.

"Dua-duanya masih di sini (kantor Satreskrim Polres Jombang) untuk menjalani pemeriksaan secara langsung dan kami berkoordinasi dengan JPU, apakah bisa ditetapkan sebagai tersangka, atau tidak sesuai dengan Pasal 296 KUHP," tambahnya.

Sukaca mengaku, berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui bahwa rumah tersebut dikontrak sejak setahun lalu, dan baru beberapa bulan beroperasi menjalankan bisnis sewa kamar dengan harga Rp30 ribu per jam.

"Jadi dia menyediakan tempat untuk dipakai untuk kegiatan itu, ya kurang lebih sudah tiga sampai empat bulanan," ungkap dia.

Sukaca menyebut, selama praktik menyewakan kamar, warga Nganjuk itu memperoleh keuntungan yang cukup banyak setiap harinya, rata-rata setiap harinya Rp200 ribu.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait