Cerita di Balik Perjalanan Rani Gowes Sendirian Kota Mojokerto-Bali

© mili.id

Sepeda yang dipakai Rani gowes sendirian Kota Mojokerto-Bali (Foto: Rani for mili.id)

Mojokerto - Hawa panas dan dingin, hingga kejaran anjing tidak mematahkan semangat Rani Cahyanti mengayuh sepeda usang milik ibunya Supeni, menaklukkan rute 500 kilometer, Kota Mojokerto-Bali.

Belum lagi saat memasuki kawasan hutan di malam hari, seperti halnya Baluran. Namun pengalaman itu tidak membuat penjual sando keliling di Kota Mojokerto itu kapok, bahkan semakin ketagihan untuk melakukan soloride.

"Kalau dibilang kapok, gak sih. Justru malah bikin nagih pengen longride lagi," ucap Rani kepada mili.id, Rabu (17/1/2024).

Baca juga: Gowes Sendirian Kota Mojokerto-Bali, Rani Taklukkan 500 Kilometer dalam 41 Jam

Rani berangkat dari kediamannya di sekitar pukul 03.00 WIB, Kamis (28/12/2023). Dia memilih mengenakan kaos putih dengan identitas dirinya, lengkap dengan topi dan sepatu khas cyclist.

Gadis 23 tahun itu tetap gigih, meski di hari pertama gowes, ia melintas di area hutan wilayah Situbondo, yang benar-benar sepi. Beruntung ada satu keluarga yang melintas menggunakan motor mengawal dirinya dan memberikan tempat bermalam untuk menanti subuh tiba.

"Sewaktu masuk alas (hutan) Situbondo aku ditolong orang. Jadi dikawal sejauh 6 kilometer, jalanan sepi dan gelap banget. Abis itu udah hampir pukul 21.00 WIB. Akhirnya aku disuruh menginap di tempat kerjanya itu di tambak udang," ujar Rani.

Di hari kedua, badan Rani mulai linu dan speed menurun. Meski begitu, dia tetap melanjutkan perjalanan 500 kilometer untuk menuntaskan Rapha Festiv 2024 dan memenuhi permintaan netizen.

Dalam perjalanan hari kedua itu pun, Rani harus on sadel, mulai pukul 05.10 WIB agar tiba tepat waktu di Bali.

"Masuk di tengah alas Baluran terpaksa nuntun karena gak kuat, terus sepi juga. Beberapa kali ketemu kawanan monyet. Jadi gak berani video takut dikejar. Dan jam 1 siang sudah keluar dari Baluran. Lanjut nyebrang, sekitar pukul 21.30 WIB di Pulukan aku mutusin buat nginap di masjid (70 kilometer dari Denpasar)," papar dia.

Memasuki hari ketiga menuju finish, anak kedua dari pasangan Tiran dan Supeni itu mulai mengalami cidera, tepatnya di kilometer 410. Lutut kaki kanannya mengalami pembengkakan. Kulit di bagian sensitifnya juga lecet.

Sehingga, di sepanjang sisa perjalanan, gadis berkulit kuning langsat itu harus mengayuh sepedanya tanpa menyentuh sadel. Rani pun membeli obat-obatan pereda nyeri di setiap pemberhentian.

Meski sudah sempat mendapatkan perawatan dokter di salah satu pusat kesehatan masyarakat, tapi Rani memilih tetap melanjutkan perjalanan dengan waktu tempuh 41 jam.

"Jadi hari ketiga paling berat. Mental dan fisik memang harus sangat dipersiapkan. Sampai di salah satu minimarket langsung beli obat, jalan tapi jarak 5 kilometer sudah gak tahan lagi. Akhirnya beli tissue magic buat dingginnya. Jalan 10 kilometer lagi sudah gak kuat. Akhirnya nuntun sepeda sampai dapat puskesmas terdekat," ungkapnya.

"Harusnya disuruh dokter istirahat dan dilanjutkan lagi besoknya. Tapi karena ambisiku on target, jadi aku tetap lanjutkan perjalanan yang sudah mulai dekat Denpasar. Sampai mau nangis karena sakit banget," tutur Rani.

Rani harus tetap melanjutkan perjalanan, dan memutari sejumlah wilayah di Bali untuk memenuhi target 500 kilometer. Di sini, kaki kanannya sudah tidak bisa nge-push lagi. Namun ia tetap mengayuh sepeda sang ibu, dan tiba di titik finish sekitar pukul 21.30 WIB.

"Karena rute kurang, akhirnya muterin Denpasar-Tabanan untuk mencapai sisa target. Di 7 kilometer terakhir hanya kaki kiri yang dipakai gowes, dan gak nyentuh sadel sama sekali. Soalnya sudah gak kuat banget. Tapi senang karena sampai ke titik finish di Stuja Coffe," tambahnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait