Mengenal Danu, Petani Milenial Jember yang Sukses Budidaya Edamame

© mili.id

Danu, petani milenial yang sukses berbudidaya edamame (Foto: Hatta/mili.id)

Jember - Petani milenial di Jember mampu meraup keuntungan Rp12 juta per bulan dari budidaya tanaman edamame.

Pemuda lulusan SMK pertanian itu bernama Danu Wijaya (22), asal Kecamatan Mumbulsari.

Dalam proses budidaya tanaman edamame itu, Danu menerapkan sistem digital menggunakan smartphone. Sehingga hasil pertanian edamame itu sesuai dengan harapan.

"Sejak 2021 sampai sekarang, kurang lebih tiga tahun saya menjadi petani edamame. Dengan pengalaman saya sebagai karyawan kontrak, menjadi petani saya merasakan manfaat yang lebih," ungkap Danu di lahan pertanian edamame Kecamatan Jenggawah, Kamis (18/1/2024).

Menurut Danu, dengan panen setiap 3 bulan sekali, keuntungan bertani edamame bisa mencapai Rp40 juta dari 7 hektar lahan yang dikelolanya.

"Atau dengan estimasi per bulan kurang lebih saya dapat bersih Rp12 juta. Hasil pertanian (edamame) yang saya dapat, bisa mencapai 9 sampai 10 ton per hektar," bebernya.

Peluang menjadi petani itu tidak dijalan Danu dengan mudah. Ia harus terus belajar dan memahami penggunaan teknologi smartphone untuk memproses edamame. Mulai dari pengelolaan lahan, perawatan, sampai panen dan masuk ke pabrik.

"Saya didampingi oleh petugas lapangan Fiels Asisten (FA) dari perusahaan yang menerima hasil edamame saya. Sehingga hasilnya optimal itu. Dengan adanya sistem pertanian modern ini, saya menilai lebih menjanjikan. Pilihan saya banting setir di dunia pertanian tidak salah sejak Tahun 2021," ujarnya.

Sementara menurut petugas lapangan atau Field Asisten, Winari Rafflestia Fitriani Millenia, tugasnya di lapangan adalah sebagai perantara antara petani dengan perusahaan.

Untuk memastikan hasil dan kualitas yang diharapkan sesuai dengan standar agar bisa dipasarkan secara luas di pangsa pasar internasional.

"Pengawasan yang kami lakukan itu dengan teknologi di smartphone bernama SIGAP (Digital Transformation of Reporting). Aplikasi ini merecord (merekam) semua kegiatan kita di lahan. Secara sistem, dan nanti di kantor semua data itu dipakai untuk mengetahui sejauh mana progres dan kualitas edamame yang diproduksi di lapangan," jelas perempuan yang akrab disapa Winari ini.

"Mulai dari umur tanaman, pengolahan tanah (lahan pertanian edamame), perawatan, sampai panen. Itu semua terdata secara sistem. Sejauh ini pemanfaatan sistem ini, optimal dan tanpa repot harus bawa alat tulis bolpoint atau kertas," sambungnya.

Perusahaan PT. Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT) yang mengawal pengembangan potensi budidaya tanaman edamame ini, lanjut Winari, yang mengembangkan teknologi dan menggandeng potensi dari petani milenial untuk mau berkembang di dunia pertanian.

"Jadi cukup dari aplikasi ini, kita bawa ke lahan. Mengajari ke para petani juga cukup mudah. Karena tidak sulit untuk penggunaan aplikasi tersebut. PT GMIT adalah perusahaan pangan berbasis agribisnis berkelas dunia yang meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan alam," bebernya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait