K-SULI, Kafe di Jember Ini Semua Pelayan Disabilitas

© mili.id

Lokasi Cafe K-SULI dengan konsep berbeda dan seluruh pelayannya tuna rungu. (Hatta/Mili.id)

Jember - Berlokasi di Jalan Manggis, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, Jember. Terdapat sebuah cafe yang berbeda dengan lainnya. Cafe bernama K-SULI (Kedai-Susu Tuli) ini, memiliki konsep semua pelayannya adalah penyandang disabilitas tuna rungu.

Saat berkunjung ke sana, pengunjung yang datang dapat memesan makanan atau minuman yang disediakan dengan cara menulis ataupun menggunakan bahasa isyarat. Nantinya para pelayan akan menyediakan pesanan dari pengunjung itu.

Mungkin terasa sulit untuk berkomunikasi saat memesan makanan dan minuman yang diinginkan. Tapi ada alasan dari adanya cafe ini, dan menarik bagi pengunjung. Sehingga akan mendorong keinginan untukmau belajar tentang bahasa isyarat.

"Cafe ini berdiri sekitar tahun 2021 lalu, kebetulan anak saya yang memiliki ide awal untuk mendirikan cafe ini. Anak saya berkebutuhan khusus, adanya cafe ini terinspirasi dari tempat yang sama. Ada di Jakarta," kata pemilik cafe Sumoko Hadi saat dikonfirmasi di tempatnya, Minggu (21/1/2024).

Sumoko menceritakan, sebelum berdiri cafe yang kini dikelolanya itu. Kala itu sang anak mencari referensi di google dan mengetahui ada cafe yang memiliki konsep sama dengan miliknya saat ini. 

Di sana sang anak disambut baik, serasa memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Antar sesama penyandang disabilitas tuna rungu.

"Saat itu bertemu dengan sesama temannya, senang sekali anak saya. Dari sanalah akhirnya anak saya berinisiatif untuk membuat cafe yang sama, ngomong dan minta kepada saya. Awalnya sebagai tempat untuk nongkrong sesama berkebutuhan khusus," ujarnya.

Lokasi Cafe K-SULI dengan konsep berbeda dan seluruh pelayannya tuna rungu. (Hatta/Mili.id)Lokasi Cafe K-SULI dengan konsep berbeda dan seluruh pelayannya tuna rungu. (Hatta/Mili.id)

"Akhirnya saya bersama istri bermusyawarah dan memutuskan untuk mendukung permintaannya. Begitupun juga guru-guru, serta kepala sekolahnya juga ikut mendukungnya. Sehingga berdirilah kafe yang dinamai Kedai Susu Tuli atau K-SULI ini,” sambungnya. 

Namun pasca berdirinya cafe pada tahun yang sama, Sumoko mengungkapkan perasaan sedih. Ketika momen Idul Fitri putranya mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia.

"Dapat beberapa bulan (cafe buka), anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Dari kejadian itulah, yang akhirnya kita selaku orangtuanya berinisiatif untuk meneruskan usaha ini. Sehingga, dapat bermanfaat untuk teman-temannya yang ada sampai saat ini,” ujarnya dengan menunjukkan raut wajah sedih.

"Seiring berjalannya waktu, kafe ini lalu diteruskan oleh teman-teman almarhum anak saya,” imbuhnya. 

Lebih lanjut pria yang juga pensiunan BUMN itu menjelaskan, cafe yang dikelolanya sengaja dibuka untuk umum. Untuk mendukung kemandirian dari penyandang disabilitas, agar percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. 

Juga melatih proses kemandirian dalam berwirausaha. Sehingga dapat menjadi bekal positif di masa depan.

"Makanya kemudian saya berkomunikasi dengan pihak sekolah (tempat anaknya menempuh pendidikan SLB). Untuk anak-anak itu bisa memanfaatkan tempat ini. Sehingga mereka di sini bekerja sambil belajar berwirausaha," ujarnya.

"Untuk harga terjangkau, makanan dan minuman sama seperti cafe pada umumnya. Dari Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu. Karena bukan soal profit saja," sambungnya.

Cafe K-SULI diketahui juga hanya buka dan beroperasi 3 hari saja. Kata Sumoko, khawatir nanti mengganggu proses belajar.

“Karena mereka (teman-teman almarhum) masih sekolah semua. Makanya kafe ini bukanya hanya hari jumat, sabtu, dan minggu saja. Mulai dari jam 4 sore sampai 9 malam, paling lambat jam 10 malam lah,” tandasnya. 

Terpisah, salah satu pengunjung Kafe K-SULI, Muhammad Wahyu mengaku, kafe tersebut berbeda dengan yang lainnya. Pasalnya, selain bisa belajar bahasa isyarat, pihaknya bisa berkomunikasi langsung dengan kaum ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).

“Bisa dibilang cafe ini berbeda pada umumya yang saya datangi. Karena mungkin selain makannya enak-enak dan murah. Disini juga kita bisa belajar bahasa isyarat. Juga kita bisa berkomunikasi langsung dengan teman-teman tunarungu,” ucap Wahyu.

“Selain kita berkomunikasi dengan mereka, kita juga bisa belajar bareng. Yang pastinya ada banyak hal-hal baru yang bisa kita dapat pada saat berada disini,” sambungnya. 

Kemudian, setelah belajar bahasa isyarat dengan, ia mengaku bisa mendapatkan teman baru. “Mungkin orang-orang mengira, kalau berteman dengan mereka (ABK) susah dalam berkomunikasi. Tapi kenyataannya justru kita bisa melihat sisi lain dari teman-teman ini. Karena mereka juga memiliki potensi yang baik. Sehingga perlu kita dampingi ketika berteman dengan mereka,” tutup mahasiswa UIN KHAS Jember itu.

Editor : Achmad S



Berita Terkait