Urban Farming jadi Life Style Warga Kota Mojokerto

© mili.id

KWT Teras Hijau di Kelurahan Pulorejo yang memanfaatkan lahan “cawisan” atau lahan kosong milik kelurahan yang tidak terlalu besar. (Foto: dok. Kominfo Kota Mojokerto)

Mojokerto - Urban farming atau budidaya tanaman maupun memelihara hewan ternak di perkotaan besar kini menjadi salah satu tren di Kota Mojokerto.

Gaya hidup sehat ini juga menginisiasi emak-emak di Kota Onde-Onde bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan cawisan.

Hal ini membuat Pemkot Mojokerto menginisiasi gerakan pertanian perkotaan ini melalui program Kelompok Wanita Tani (KWT).

Kini, tidak hanya warga yang tergabung dalam KWT, praktik juga makin banyak dilakukan masing-masing rumah tangga, dengan skala dan metode yang beragam.

Penjabat Wali Kota Mojokerto M Ali Kuncoro juga turut memberi perhatian terhadap fenomena tersebut. Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat yang semakin masif dalam kegiatan berkebun dan memanfaatkan ruang terbatas di sekitar rumah atau pemukiman.

“Ini tidak hanya menghijaukan lingkungan, tapi juga menyediakan sayuran segar yang bisa dikonsumsi sebagai sumber nutrisi untuk keluarga. Dan menunjukkan adanya kesadaran ketahanan pangan dari masyarakat,” jelasnya pada mili.id, Senin (22/1/2024).

Penerapan urban farming juga secara ekonomi menguntungkan bagi warga. Lanjut Ali, mengingat untuk beberapa jenis sayuran dan bumbu dapur dapat dipenuhi secara mandiri melalu hasil budidaya tersebut.

Bahkan lebih lanjut, praktiknya juga dapat membantu menekan laju inflasi daerah. “Karena sejumlah tanaman termasuk dalam jenis komoditas yang kerap mengalami kenaikan dan berkontribusi pada terjadinya inflasi daerah, seperti cabai, bawang, dan tomat,” ucap sosok yang akrap disapa Mas Pj ini.

Salah satu KWT yang ada, yakni KWT Teras Hijau di Keluruahan Pulorejo memanfaatkan lahan “cawisan” atau lahan kosong milik kelurahan yang tidak terlalu besar.

Sebanyak 15 ibu-ibu yang tergabung dalam KWT tersebut, aktif melakukan kegiatan bercocok tanam beragam jenis sayuran. Seperti cabai, tomat, kenikir, terong, pakcoy, dan lain-lain.

Beragam jenis tanaman tersebut ditanam dengan metode yang berbeda. Ada yang menggunakan polybag, langsung ke media tanah, atau system hidroponik menggunakan air.

Selain itu, pemupukan juga dilakukan dengan bahan organik, berupa pupuk POC (Pupuk Organik Cair) dan kompos, dari sampah organik rumah tangga yang dihasilkan warga sekitar.

“Untuk kangkung kami ada 5 gundukan, yang masing-masing bisa menghasil 8-9 kg. Jadi selain untuk konsumsi anggota, juga dijual. Terus ada cabai. Itu biasanya juga ada anggota yang sehari-hari berjualan makanan. Itu belinya di kita,” tutur Sunarti, salah satu pengurus KWT.

Meski terkadang agak kesulitan untuk memasarkan hasil panennya, karena dinilai lebih mahal dibanding sayur non organik, Sunarti dan kelompoknya tidak lantas goyah.

Mengingat, selain memberikan opsi sayur yang lebih sehat bagi keluarga mereka, keberadaan kelompok tani yang dibentuk empat tahun lalu ini juga menambah kerukunan antar warga.

Selain dilakukan secara berkelompok, salah satu rumah tangga yang juga melakukan praktik urban farming secara mandiri adalah pasangan Deni dan Titin, warga Kelurahan Pulorejo.

Mereka memanfaatkan system hidroponik tidak hanya untuk menanam sayuran, melainkan juga buah.

“Kami pilih hidroponik ini karena cocok untuk lahan rumah yang sempit dan cukup mudah. Selain itu juga ternyata bisa untuk berbagai jenis tanaman. Biasanya untuk sayur, ini yang terbaru kami coba untuk menanam buah melon dan bisa berbuah dengan baik,” ucap Titin.

 

Editor : Aris S



Berita Terkait