Komunitas pecinta lingkungan di Jember Pertanyakan Pengolahan Sampah APK

© mili.id

Pembongkaran APK yang dilakukan Bawaslu dan Satpol PP Jember.(Hatta for Mili.id)

Jember - Komunitas pecinta lingkungan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jember bersama TPS Pakusari wilayah setempat peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Rabu (21/02/2024).

Dalam acara tersebut juga mengkritisi soal banyaknya sampah bekas alat peraga kampanye (APK), dan sikap dari peserta pemilu yang masih memaku APK di pohon.

Sampah APK tersebut dari kajian yang dilakukan ternyata sangat menumpuk, dan juga tidak jelas di mana dan bagaimana pengelolaannya.

"Sejauh ini sampah dari APK itu tidak ada pembahasan bersama dengan lembaga terkait, baik KPU ataupun Bawaslu wilayah Jember," ujar Kepala UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, RM Masbut..

Dipaparkar Masbut bila melihat jumlah caleg yang ada di Kabupaten Jember, APK dari kurang lebih 273 caleg dengan 3 capres, sampah dari APK itu bisa mencapai sekitar 2 ton lebih.

Bahannya pun tidak mudah didaur ulang, karena dari campuran PVC dengan kertas dan plastik, sehingga bahan itu pun juga susah terurai.

"Nah pertanyaannya, kemana sampah APK itu, kita juga tidak tahu," tanya Masbut saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Rabu (21/2/2024).

Namun demikian, kata Masbut, dapat dipastikan saat memasuki masa tenang dan tahapan pemungutan suara. APK yang dicopoti tersebut, sudah menjadi sampah.

"Ini tentu menjadi PR kita bersama," katanya.

Perayaan HPSN di Jember.(Hatta for Mili.id)Perayaan HPSN di Jember.(Hatta for Mili.id)

Terkait pengelolaan sampah bekas APK itu, lanjutnya, diketahui ada teknologi yang bisa merubah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Menurut Masbut terkait pengelolaan sampah APK dapat diubah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel), atau sebagai bahan bakar alternatif untuk pengganti batu bara. Atau juga bisa digunakan untuk orang-orang di desa untuk pertanian atau lamak (alas di lantai)," ungkapnya.

"Tapi kan untuk ukuran APK dalam bentuk banner itu kan variasi, nah yang kecil-kecil kan gak bisa dan tetap jadi sampah," imbuhnya.

Namun demikian, terkait teknologi pengelolaan sampah. Diakui juga oleh Masbut, di TPS tempatnya bekerja ada alat yang dimaksud itu, namun masih belum ada kajian lebih lanjut tentang alat untuk mengolah sampah menjadi RDF itu.

"Sebenarnya kita ada di TPA Pakusari, mesin untuk mengolah jadi RDF itu. Tapi untuk optimalisasi hasil akhir dari RDF yang dihasilkan, belum ada kajian lebih lanjut. Karena juga belum ada kerjasama dengan pihak terkait. Ya mudah-mudahan tidak sampai di buang ke sungai sampah bekas APK itu. Kita dari TPA Pakusari tidak pernah menerima sampah APK itu," ujarnya.

Masbut juga menambahkan, terkait persoalan sampah bekas APK, pihaknya sebagai bagian dari komunitas pecinta lingkungan, juga menyayangkan soal pemasangan APK dengan cara dipaku pada pohon.

"Hampir 60 persen semua APK itu pantauan kita di lapangan, semua terpaku di pohon. Padahal dengan dipaku itu, merusak pohon, dan mudah tumbang jika semakin tua. Artinya dampaknya ini negatif, bahkan mungkin hanya bisa dijadikan kayu bakar jika tumbang. Padahal pohon sangat penting untuk keseimbangan alam," tuturnya.


Terkait perayaan HPSN di Jember, dikemas dengan bentuk kampanye pengelolaan atau dan bagaimana melakukan daur ulang untuk menjadi lebih bermanfaat.


Menanggapi soal sampah APK dan pemasangan dengan dipaku pada pohon. Hal senada juga disampaikan Ketua World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jember Parmuji.

Menurut Parmuji jika hingga saat ini belum ada koordinasi dari KPU maupun Bawaslu. Apakah APK itu dikembalikan ke pemiliknya, atau dikemanakan.

Sedangkan untuk APK yang terpaku di pohon, sebenarnya sudah jelas di KPU itu, tidak boleh memasang banner dengan dipaku di pohon.

"Tapi masalahnya kita tidak tahu siapa pelakunya. Mengaku pun juga tidak," kata pria yang juga akrab disapa Cak Muji ini.

"Untuk itu Cak Muji berharap agar sampah APK ini jangan sampai mencemari lingkungan. Bahkan menjadi beban TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Karena TPA pun sudah over load, jadi mungkin ke depan ada solusi agar bisa selesai di hulu.

Sehingga Cak Muji mengharapkan nantinya akan dilakukan diskusi bersama, terkait bagaimana pengelolaan sampah dari bekas APK. Termasuk cara memasangnya agar tidak dengan memaku di batang pohon.

"Nah nanti dari ini akan kita bahas dalam FGD (Forum Groups Discussion) dengan mengundang KPU dan Bawaslu. Dinas terkait seperti DLH (Dinas Lingkungan Hidup) ataupun Dinas Kehutanan untuk kemudian nanti kita samakan persepsi. Dari FGD ini harapannya akan ada rekomendasi bersama, apalagi setelah ini kan masih ada Pesta Pemilu lagi yakni Pilkada itu," ujarnya.

Terkait kepedulian pada lingkungan, pria yang banyak bergerak dibidang recycle (daur ulang) sampah ini. Juga mengajak masyarakat, untuk bersama menjaga lingkungan.

"Kalau perlu, beri keleluasaan kepada masyarakat untuk bertindak tegas. Jika masih ada calon peserta pemilu memasang APK dengan memaku pohon, agar dicopot sendiri dengan perlindungan undang-undang. Menurut saya cara itu lebih efektif, karena ingat! Kita bersama harus menjaga lingkungan," pungkasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait