Perjalanan Shin Tae Yong Berlabuh di Nusantara, Bawa Timnas Indonesia Bersinar

© mili.id

Shin Tae Yong bersama Ketua Umum PSSI, Erick Thohir (twitter @erickthohir)

Mili.id - Sebuah prestasi membanggakan baru saja diukir oleh Timnas Indonesia U-23. Lewat tangan dingin Pelatih Shin Tae Yong, skuad garuda muda berhasil meraih tiket untuk masuk ke semifinal di Piala Asia 2024, setelah menyingkirkan Timnas Korea Selatan U-23 melalui babak pinalti dengan skor 11-10, Jumat (26/04/2024).

Tentunya, prestasi ini tidak sekedar membanggakan bagi seluruh masyarakat Indonesia, melainkan juga sebagai penanda kebangkitan sepak bola nusantara di kancah internasional.

(Perjalanan Shin Tae Yong Sebagai Pesepak Bola)

Perjalanan panjang telah ditempuh oleh pria kelahiran 11 April 1970 di Yeongdeok, Korea Selatan. Karir di dunia sepak bola dimulai sejak 1992 sebagai pemain di klub Seongnam Ilhwa Chunma.

Saat bermain di Seongnam Ilhwa Chunma, klub ini sempat menjuarai tiga liga berturut-turut pada 1993-1995. Shin Tae Yong juga pernah menyabet penghargaan Most Valuable Player (MVP) Award pada 1995.

Setelah itu, Seongnam Ilhwa Chunma tersendat untuk beberapa waktu, tetapi mereka sukses dalam menaklukkan pertandingan kembali. Dibawah kontribusi Shin Tae Yong, tim ini menjuarai liga untuk tiga tahun berturut-turut dari tahun 2001-2003.

Pada 2001, Shin Tae Yong kembali menyabet penghargaan MVP Award keduanya. Dia berhasil mencetak 99 gol dan 68 assist di 401 pertandingan K-League, maupun Piala Liga.

(Jalan Baru Berkarir Sebagai Pelatih)

Pada 2004, Shin Tae Yong menyatakan pensiun sebagai pemain karena pergelangan kakinya mulai bermasalah. Shin Tae Yong kemudian menjajal peruntungan dengan menjadi pelatih.

Awalnya, dia menjadi asisten pelatih di Queensland Roar di tahun 2005-2008. Kemudian di tahun 2009, Shin kemudian menjadi pelatih klub Seongnam Ilhwa Chunma, yang merupakan asal dirinya ditempa sebagai pemain.

Lewat strateginya, Shin berhasil mengantar tim tersebut menjadi pemimpin di K League 2009 dan Piala FA Korea 2009.

Meski saat itu timnya sedang kekurangan dana, Shin berani menandatangani kontrak permanen untuk tahun berikutnya. Selanjutnya, ia berhasil memenangkan Liga Champions AFC 2010 dan Piala FA Korea 2011.

Dia menjadi orang pertama yang memenangkan Liga Champions AFC sebagai pemain dan manajer. Namun, performa tim menurun di musim 2012, serta diperparah oleh kematian Sun Myung Moon, pendiri Gereja Unifikasi yang merupakan pemilik klub.

Dia akhirnya mengundurkan diri dari Seongnam Ilhwa Chunma setelah menyelesaikan musim. Setelah itu, pada Agustus 2014, ia menjadi asisten pelatih Timnas Korea Selatan. Di bawah Shin, Korea Selatan mencapai Final Piala Asia 2015 untuk pertama kalinya dalam 27 tahun.

Pelatih Korea Selatan pada waktu itu adalah Uli Stielike, tetapi peran pembinaan yang sebenarnya dilakukan oleh Shin, yang mengambil alih taktik dan pelatihan tim. Shin juga menangani tim nasional Korea Selatan U-23 pada saat yang sama, dan berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Panas 2016.

Tepat tanggal 22 November 2016, Shin diangkat sebagai pelatih tim nasional Korea Selatan U-20 untuk mempersiapkan diri di ajang Piala Dunia U-20 FIFA 2017 yang digelar di Korea Selatan.

Karena itu, ia meninggalkan tim senior untuk berkonsentrasi pada tim U-20. Di Piala Dunia, Korea Selatan finis di peringkat kedua grup dengan mengoleksi 6 poin dan maju ke babak gugur, tetapi mereka dikalahkan oleh Portugal di babak 16 besar.

Shin kemudian hengkang sebagai pelatih Timnas Korea Selatan di tahun 2018. Di tahun itu, Pada Piala Dunia 2018, Timnas Korea Selatan gagal lolos di fase grup.

Korsel gagal bersaing dengan Swedia dan Meksiko dari Grup F yang lolos ke 16 besar Piala Dunia 2018. Meski saat itu menang lawan Jerman, namun tetap saja Korea Selatan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018.

Usai meninggalkan Timnas Korea Selatan, Shin sempat berhenti sejenak menjadi pelatih sebelum dipercaya PSSI untuk melatih Timnas Indonesia pada 28 Desember 2019, dengan kontrak awal 4 tahun.

Awal yang buruk bagi Shin ketika awal menjabat pelatih untuk mempertajam skuad garuda. Permainan Timnas Garuda masih tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, tak ada yang istimewa.

Kemudian di tahun 2020, Shin cakar garuda yang telah dia asa itu mulai tajam kembali hingga membuat Timnas Indonesia berhasil menjuarai piala AFF 2020 dengan pemain rata-rata berusia 23 tahun.

Selanjutnya, kabar gembira kembali menyejukkan hati masyarakat Indonesia, lewat juru strategi Shin, skuad garuda muda Indonesia berhasil lolos ke semifinal di Piala Asia U-23 2024.

Saat ini, Shin Tae Yong kembali dipercaya untuk melatih Timnas Indonesia dan dilakukan perpanjangan kontrak oleh PSSI hingga 2027 mendatang.

Editor : Achmad S



Berita Terkait