UKWMS Gelar Symposium Internationalization of Democracy Libatkan Peserta Luar Negeri

© mili.id

UKWMS Gelar Symposium Internationalization of Democracy (Foto: UKWMS)

Surabaya - Perkembangan teknologi dan informasi dewasa kini banyak mempengaruhi kehidupan manusia, baik pada pribadi maupun kelompok.

Bahkan hampir tidak ada aspek yang tidak terpengaruh oleh teknologi dan informasi. Termasuk, demokrasi yang banyak diadopsi oleh banyak negara.

Demokrasi membawa terwujudnya satu sistem kehidupan, yang melibatkan semua elemen pembangun masyarakat untuk terwujudnya kesepakatan bersama.

Menyadari kompleksitas ini, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menggelar Second International Symposium on Transformative Ideas in a Changing World.

Symposium dengan mengangkat topik The Internationalization of Democracy digelar di Widya Mandala Hall, Kampus Pakuwon City itu diikuti oleh para peserta yang berasal dari berbagai negara, seperti Singapore, Australia, Filipina, Kamboja.

"Demokrasi yang baik tidak dapat dicapai oleh perangkat masyarakat semata, tapi dibutuhkan perluasan cakupannya di tingkat regional dan global. Termasuk ide dan praktik demokrasi yang baik perlu di sebar luaskan, agar dapat menginspirasi gerakan yang sama di mana pun," terang Dekan Fakultas Filsafat UKWMS, Dr. Aloysius Widyawan Louis, melalui siaran tertulisnya, Senin (13/5/2024).

Simposium ini terdiri dari sesi pleno dan diskusi kelompok yang terdiri dari tiga bidang. Melibatkan bidang politik-ekonomi, sosio-budaya, dan pendidikan-minoritas.

Sesi pleno pertama disampaikan oleh Prof. Anita Lie, Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKWMS. Prof Anita menyampaikan topik Educating the Demos for a Just and Prosperous Society. Didampingi Dr. Ramon Nadres selaku moderator.

"Menciptakan demokrasi yang baik, tidak bisa kerja satu pihak semata. Namun, masyarakatnya juga harus cerdas, contohnya dalam pemilihan anggota legislatif. Penting bagi kita untuk bisa mempelajari, mencari tahu latar belakang mereka. Kalau kita salah pilih, ini akan menjadi satu lingkaran yang tidak kunjung usai," terang Prof Anita.

Pada sesi pleno kedua, hadir Yanuar Nugroho, seorang Visiting Senior Fellow at ISEAS-Yusof Ishak Institute. Sekaligus, dosen senior di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Serta, hadir melalui zoom yakni Max Lane, penulis dan akademik di University of Sydney, Victoria University.

Yanuar membawakan topiknya yakni, Politics, Policy, and Governance in Indonesia: What has happened before, and what will happen after 2024? Hadir sebagai moderator Herlina Yoka Roida.

"Indonesia setelah pemilihan tahun ini, akan mengalami beberapa tantangan. Karena akan ada perubahan, termasuk dalam pengambilan keputusan oleh pimpinan, kepercayaan publik, dan munculnya konflik berkelanjutan," ujar Yanuar.

Sehingga menurutnya, Indonesia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi sebuah 'game changer' berada dalam kabinet yang nantinya dibentuk. Tentunya agar kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, dapat berjalan sesuai dengan permasalahan negara.

 

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait