Selat Hormuz.
Mili.id – Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama gencatan senjata di Lebanon tidak dihormati dan kepentingan ekonomi Teheran belum terpenuhi. Sikap tersebut muncul di tengah berlangsungnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang digelar di Swiss untuk mencari jalan keluar atas konflik berkepanjangan kedua negara.
Menurut laporan kantor berita Iran, Tasnim, yang mengutip sumber dekat dengan tim negosiasi Iran-AS, pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Lebanon, khususnya terkait operasi militer Israel di wilayah selatan negara itu.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas
Sumber tersebut menyebutkan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz apabila serangan terhadap Lebanon terus berlanjut atau kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati dilanggar.
Selain faktor keamanan regional, Teheran juga mengaitkan kebijakan tersebut dengan kepentingan ekonominya. Iran dikabarkan menuntut adanya izin yang memungkinkan ekspor minyak negaranya kembali berjalan sebelum mempertimbangkan pembukaan jalur pelayaran tersebut.
Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari negara-negara produsen di kawasan Timur Tengah menuju pasar global.
Keputusan Iran mempertahankan penutupan Selat Hormuz berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan sekaligus memicu kekhawatiran pasar energi internasional. Pasalnya, setiap gangguan terhadap arus pelayaran di jalur tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak dunia dan pergerakan harga energi global.
Baca juga: Drone Picu Kebakaran Dekat PLTN Barakah Abu Dhabi
Di tengah situasi yang masih dinamis, perhatian dunia kini tertuju pada hasil perundingan Iran dan Amerika Serikat di Swiss, yang diharapkan mampu meredakan ketegangan sekaligus membuka ruang bagi penyelesaian konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Editor : Redaksi
