DN Aidit ditangkap tentara (Istimewa)
mili.id - Tepat pada 23 November 1965 atau 59 tahun lalu, Ketua Central Committee (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara (DN) Aidit dieksekusi mati dengan cara ditembak.
DN Aidit yang merupakan salah satu Menteri dalam Kabinet Dwikora ini disebut-sebut Pemerintah Orde Baru, adalah orang yang paling bertanggungjawab atas Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI.
Kronologi Eksekusi Mati DN Aidit
Sebelum dieksekusi di rezim Soeharto, Aidit ditangkap pada 22 November 1965 sekitar pukul 23.00 WIB. Ia diciduk dari tempat persembunyiannya, di dalam rumah Kasim alias Harjomartono, di Kampung Sambeng, Solo, Jawa Tengah.
Sebelum ke rumah Kasim, Aidit sempat sembunyi di beberapa tempat. Nahas, di rumah Kasim lah dia berhasil dijemput paksa tentara bersenjata lengkap kemudian dibawa ke Loji Gandrung, Solo, tempat peristirahatan AD.
Ketika berada di rumah Kasim, sebenarnya Aidit memiliki peluang besar untuk melarikan diri dari penangkapan tersebut. Sebab, saat penggerebekan pertama dilakukan di rumah itu, tentara tidak berhasil menemukan tempat persembunyiannya.
Bahkan, setelah rumah itu diobrak abrik tentara untuk mencari keberadaannya, hasilnya tetap saja nihil. Tentara sempat berpikir Aidit telah berhasil melarikan diri. Namun, pihak intelijen saat itu bersikeras dia masih berada di dalam dan sembunyi di dalam rumah Kasim.
Tentara yang sudah kehilangan rasa sabar akhirnya mengangkut Kasim ke markas, lalu menginterogasinya. Diduga tidak tahan dengan siksaan dan takut dengan ancaman tentara, Kasim buka mulut dan menunjukkan lokasi Aidit bersembunyi.
Berbekal keterangan dari Kasim saat berada di markas, tentara kembali membawa Kasim ke rumahnya. Di sana, sebagian tentara masih melakukan pengepungan. Di hadapan moncong senapan, Kasim lalu menggeser lemari di salah satu ruangan rumahnya.
Ternyata, dari balik lemari itu terdapat pintu rahasia. Di dalamnya Aidit berada dan bersembunyi dari pencarian tentara. Pemimpin penangkapan saat itu, Letnan Ming Priyatno pun bersiap-siap mengacungkan senjatanya ke pintu.
Merasa terdesak, Aidit pun bersuara dari balik persembunyiannya, lalu membuka pintu, dan keluar dari balik lemari. Aidit lalu dibawa ke Loji Gandrung. Di sana, sempat ada seorang Mayor yang ingin mengoper alih penangkapan Aidit.
Namun, pemintaan itu ditolak Komandan Brigade Mayor Jenderal (Mayjen) Yasir Hadibroto. Sesuai perintah Soeharto, Mayjen Yasir Hadibroto memerintahkan anak buahnya untuk mencari sumur tua yang kering. Setelah sumur yang diminta dapat, Aidit dibawa sejumlah regu tembak ke tempat itu.
Sumur tua itu berada di tengah kebun pisang yang sangat lebat, jauh dari pemukiman penduduk. Saat itu, Aidit sudah tahu bahwa dirinya akan ditembak mati. Menjelang ajak, dia memiliki satu permintaan terakhir, yakni ingin berpidato.
Aidit minta waktu untuk berpidato sebentar. Setelah 10 menit berpidato dengan berapi-api dihadapan para tentara dan regu tembak yang diakhiri dengan teriakan, "Hidup PKI," Aidit langsung ditembak.
Setelah tumbang berlumuran darah, jenazah Aidit dimasukan ke sumur tua di tengah kebun pisang. Di atas jenazahnya itu, para tentara menindihnya dengan sejumlah batang pisang yang ditebang, kayu-kayu kering, dan tanah, lalu membakarnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan jejak Aidit.
Setelah kematian Aidit, pemerintah saat itu kemudian membubarkan PKI dan menggolongkannya sebagai organisasi terlarang. Seluruh ajaran, ideologi maupun simbol yang berbau palu dan arit itu dilarang tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Editor : Achmad S
