Aura Yuni Shara, Memori Surabaya, dan Rindu Siaran Sehat

Aura Yuni Shara, Memori Surabaya, dan Rindu Siaran Sehat © mili.id

Rosnindar Prio Eko Rahardjo, Komisioner KPID JawaTimur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo 

Mili.id-Yuni Shara akan show di Surabaya. Anda mungkin sudah melihat posternya atau mendengar beritanya di televisi dan radio lokal. Atau mendengar kabarnya dari grup WhatsApp. Arek Batu itu akan kembali menyapa publik Surabaya. Jarak Batu dan Surabaya memang dekat. Tapi jarak waktu yang akan Yuni bawa ke atas panggung nanti, membentang lebih dari tiga dekade.

Baca juga: Yuni Shara Suguhkan Konser 3553 Penuh Nostalgia di Surabaya

Umurnya sudah lewat setengah abad. Tapi coba lihat. Potongan rambutnya tetap pendek. Senyumnya tetap sama. Tarikan suaranya masih sebening kristal.

Yuni bukan penyanyi karbitan. Masa lalunya adalah cerminan kerja keras khas Jawa Timur. Ia lahir dari panggung-panggung kecil. Ikut festival sana-sini. Merantau ke ibu kota saat masih belia. Menelan asam garam industri hiburan sebelum akhirnya merajai layar kaca nasional di era 90-an.

Di titik inilah, ingatan kita tak bisa lepas dari dunia penyiaran masa lalu.

Dulu, untuk bisa masuk ke televisi, seorang seniman harus benar-benar "jadi". Ekosistem penyiaran kita saat itu sangat ketat menjaga kualitas. Produser televisi adalah kurator yang kejam sekaligus hebat. Tidak ada auto-tune untuk memperbaiki suara fals. Tidak ada gimmick kehidupan pribadi yang sengaja disebar agar viral.

Semuanya murni bertumpu pada talenta. Yuni Shara adalah produk emas dari ekosistem penyiaran yang "sehat" itu. Ia dididik oleh kamera televisi yang menuntut kesempurnaan vokal dan keanggunan sikap.

Bandingkan dengan layar kaca dan media digital kita hari ini.

Pakar ekologi media, Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death, pernah memberikan peringatan keras. Ia meramalkan bahwa masyarakat modern akan hancur bukan karena sensor atau kediktatoran, melainkan karena kita terlalu mencintai hiburan yang dangkal. Hari ini, ramalan Postman terasa nyata. Ruang publik dan frekuensi siaran kita sering kali dijejali konten instan. Asal sensasional, asal mengundang klik, langsung tayang. Kualitas ditaruh di laci paling bawah.

Di tengah gempuran kedangkalan itulah, show Yuni Shara di Surabaya menjadi semacam antitesis. Sebuah oase.

Baca juga: Yuni Shara 3553 Concert Hadir di Surabaya, Sajikan Nostalgia dan Kehangatan

Kenapa tiket pertunjukannya tetap diburu? Kenapa ia tidak pernah kehilangan penggemar?

Filsuf seni mazhab Frankfurt, Walter Benjamin, punya jawaban yang pas. Benjamin memperkenalkan konsep bernama "Aura". Menurutnya, sebuah karya seni yang sejati memancarkan aura eksistensial yang unik. Sesuatu yang tidak bisa di- copy-paste oleh mesin atau teknologi.

Aura Yuni Shara terbentuk dari puluhan ribu jam terbangnya di atas panggung dan di depan kamera televisi. Rekaman audio digital tercanggih sekalipun tidak akan bisa menduplikasi caranya menatap penonton, caranya meresapi lirik, dan keanggunan pelafalannya. Aura itu hanya hidup saat ia memegang mikrofon secara langsung.

Lalu, siapa yang akan memenuhi gedung pertunjukan di Surabaya nanti?

Tentu saja generasi yang tumbuh bersamanya. Sosiolog Maurice Halbwachs menyebut fenomena ini sebagai "memori kolektif". Ingatan kita tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya di zaman itu.

Baca juga: Yuni Shara dan Hedi Yunus Meriahkan Memorabilia Intimate Dinner di Surabaya

Saat Yuni nanti membawakan lagu "Mengapa Tiada Maaf" atau "Hilang Permataku", para penonton di Surabaya tidak sedang sekadar mendengarkan musik. Mereka sedang memutar ulang pita sejarah hidup mereka sendiri. Mereka akan kembali mengingat masa muda di Surabaya yang panas. Mengingat indahnya kumpul keluarga di ruang tamu, menonton televisi tabung, menikmati hiburan yang santun, elegan, dan menenangkan jiwa.

Bagi Surabaya yang bergerak serba cepat, pragmatis, dan penuh peluh mesin industri, kehadiran Yuni adalah jeda yang sangat mahal.

Pertunjukannya nanti bukan sekadar konser musik. Ia adalah sebuah tugu peringatan. Peringatan bagi kita, dan terutama bagi para pelaku industri penyiaran saat ini: bahwa karya yang digarap dengan standar tinggi, ketulusan, dan menghargai kepantasan moral publik, tidak akan pernah usang ditelan zaman.

Yuni Shara membuktikan, kualitas selalu punya tempat untuk pulang. Dan malam itu, ia akan pulang ke pelukan Surabaya. (*)

*) Komisioner KPID JawaTimur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura

Editor : Muhammad



Berita Terkait