Bubuk kopi blend dimasukkan ke dalam cezve bersamaan dengan gula ataupun susu, panci yang digunakan untuk memasak kopi Turki. (Foto: Nana/mili.id)
Mojokerto - Bagi penikmat kopi yang diseduh secara manual mungkin Anda bisa mencoba sensasi kopi blend yang dipanaskan menggunakan pasir pantai di Kecamatan Trawas.
Seduhan ini merupakan metode sajian kopi tradisional asal Turki yang diadopsi mahasiswa lulusan Taiwan Culinary asal Mojokerto.
Baca juga: Baru Bebas Tiga Bulan, Residivis Curanmor Kembali Beraksi di Empat Lokasi
Uniknya, jenis biji kopi dari tiga pulau baik itu robusta maupun arabica dicampur menjadi satu saat disangrai dan diroasting. Tentunya dengan komposisi yang khusus, antara biji kopi asal NTT, Lampung (Sumatra), dan Trawas (Jatim).
"Kopi yang dimasak dan digoreng dari berbagai tempat. Itu ada robusta dan arabica, lalu dimasak di atas pasir," ujar Musa Berly (23) anak pemilik Warung Sego Lego ke mili.id, Jumat (10/5/2024).
Bubuk kopi blend dimasukkan ke dalam cezve bersamaan dengan gula ataupun susu, panci yang digunakan untuk memasak kopi Turki dan berbeda dari panci umumnya. Cezve memiliki pegangan yang panjang untuk mencegah agar tangan tidak terkena panas.
Lalu diseduh menggunakan air yang dipanaskan dalam bejana tembaga, dan dipanaskan kembali di atas pasir dengan suhu 100'C. Nah, inilah yang membedakan dengan seduhan kopi tradisional umumnya menggunakan air mendidih.
"Kalau kopi biasa pakai air panas, tapi kalau kita pakai pasir untuk memasaknya, pasir sendiri untuk penghantar panasnya," bebernya sembari meracik kopi pasar khas Sego Lego Trawas.
Proses pematangan dua kali ini membuat seduhan kopi dengan citarasa yang berbeda atau otentik untuk dinikmati pecinta kopi. Perpaduan biji kopi robusta dan arabica semakin kuat Teresa di lidah.
Baca juga: Tergiur Ritual Penggandaan Uang, Warga Kehilangan Rp22 Juta di Mojokerto
"Karena unik, rasanya lebih otentik, dan di Trawas belum ada yang pakai. Kalau habis minum memang konsumen bilang langsung ces pleng, seperti tidak jadi mengantuk gitu," ucapnya.
Kopi pasir ini hanya dihargai Rp 10 ribu untuk satu cangkir kopi hitam, sedangkan perpaduan kopi dan susu dihargai Rp 15 ribu.
Terbilang cukup murah dengan citarasa perpaduan pahit sedikit asam saat di seruput menggunakan cangkir berbahan kaca.
Pelanggan juga bisa memesan tingkat kemanisan dari kopi pasir, atau bahkan seduhan kopi tanpa gula.
Baca juga: Pemkot Mojokerto Gandeng 30 Penyedia Makan Minum, Harga Nasi Kotak Ditetapkan Lewat Kontrak Payung
Yusuf Mustifa (53), salah satu warga Sidoarjo yang juga penikmat kopi mengaku, cocok dengan seduhan kopi pasir khas Sego Lego Trawas ini. Ditambah takaran blend antara biji kopi robusta dan arabica yang pas.
Membuat dirinya semakin menikmati nuansa alam Trawas yang masih alami dan sajian makanan ala rumahan di warung tersebut.
"Saya cocok, enak. Kebetulan saya suka yang tidak ada gulanya. Nanti kalau pesan lebih baik request saja kalau memang tidak suka manis, atau centering pahit," imbuhnya yang datang bersama istri untuk menikmati suasana segar alam Trawas.
Editor : Aris S
