6 November 116 Tahun Lalu, Pejuang Aceh Cut Nyak Dhien Wafat

6 November 116 Tahun Lalu, Pejuang Aceh Cut Nyak Dhien Wafat © mili.id

Cut Nyak Dhien bersama pasukan kecilnya. (wikipedia)

Mili.id - Tepat pada tanggal 6 November 1908 atau 116 tahun lalu, pejuang asal Aceh Cut Nyak Dhien wafat karena menderita sakit-sakitan, ketika diasingkan oleh Belanda di daerah Sumedang, Jawa Barat.

Cut Nyak Dhien adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Tanah Rencong, yang wafat di usia 60 tahun. Ia merupakan pejuang militan untuk melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Baca juga: Korban Tewas Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Bertambah Jadi Dua, ASDP Sampaikan Belasungkawa

Biografi Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848.

Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang banyak mendapat pendidikan bidang agama, dari orangtua ataupun guru.

Kecantikannya banyak membuat laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim.

Dari pernikahan awal itu, ia belum dikarunia anak. Setelah Teuku Cek Ibrahim wafat pada 1878, ia kemudian menikah lagi bersama Teuku Umar di tahun 1880.

Dari pernikahan ini, Cut Nyak Dhien memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Cut Gambang. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda.

Namun, pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya untuk melawan penjajah Belanda.

Perjuangan Cut Nyak Dhien Melawan Belanda

Awal mula Cut Nyak Dhien terjun ke medan perang melawan Belanda ini dikarenakan suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim, tewas ditangan penjajah pada 29 Juni 1878.

Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Beberapa tahun kemudian, Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien.

Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak. Namun, karena Teuku Umar mempersilakannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerima pinangan tersebut.

Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda.

Belanda sangat senang karena musuh yang dianggapnya berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh.

Rupanya, "penyerahan diri" ini merupakan taktik Teuku Umar supaya ia dapat mempelajari strategi Belanda dalam berperang. Ia merahasiakan rencana menipu Belanda dengan rapat-rapat, meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh.

Cut Nyak Dhien berusaha menasihatinya untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda. Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai.

Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengeklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).

Baca juga: Brobbey dan Gakpo Mengamuk, Belanda Bantai Swedia 5-1 dan Kuasai Puncak Grup F

Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan penjajah ini marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar.

Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda hingga Jenderal Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan.

Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya, keberadaan Umar dan Cut Nyak Dhien kini paling dicari oleh Belanda.

Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz kemudian menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.

Cut Nyak Dien lalu memimpin perang melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh.

Selain itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulit memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya.

Anak Buah Cut Nyak Dhien Lapor Belanda

Cut Nyak Dhien berhasil ditangkap Belanda ketika salah satu anak buahnya yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda, karena iba dengan kondisi Cut Nyak Dhien yang semakin renta.

Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Namun, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda.

Cut Nyak Dhien ditangkap kemudian dibawa ke Banda Aceh untuk mendapat perawatan medis. Penyakit yang diderita seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh.

Baca juga: Jepang Paksa Belanda Berbagi Poin, Gol Menit Akhir Gagalkan Kemenangan Oranje

Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang lain yang belum tunduk.

Ia dibawa ke Sumedang pada tahun 1906 bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien.

Saat itu, tentara Belanda dilarang mengungka identitas asli tahanan, maka hingga akhir hidupnya identitas asli Cut Nyak Dhien tidak diketahui oleh warga Sumedang. Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu".

Meski kesulitan berkomunikasi karena perbedaan bahasa, "Ibu Perbu" sering diminta menjadi guru mengaji bagi warga setempat. Pada tanggal 6 November 1908, "Ibu Perbu" meninggal karena usianya yang sudah tua.

Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Dari penyelidikan, dipastikan "Ibu Perbu" yang dimakamkan di Desa Sukajaya, Sumedang Selatan, adalah Cut Nyak Dhien.

Namanya Diabadikan di Berbagai Tempat

Atas aksi heroiknya, Cut Nyak Dhien diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Namanya juga diabadikan sebagai nama berbagai tempat sebagai berikut:

1. Kapal perang TNI-AL KRI Cut Nyak Dhien.
2. Bandar Udara Cut Nyak Dhien di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.
3. RSUD Cut Nyak Dhien di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.
4. Universitas Sains Cut Nyak Dhien di Kota Langsa, Provinsi Aceh.
5. Universitas Tjut Nyak Dhien di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.
6. Mata uang Rupiah yang bernilai sebesar Rp10.000,00 yang dikeluarkan tahun 1998 memuat gambar Cut Nyak Dhien dengan deskripsi Tjoet Njak Dhien.
7. Perangko Peringatan 100 Tahun "Cut Nyak Dhien".
8. Masjid Aceh kecil didirikan di dekat makamnya untuk mengenangnya.
9. Masjid Cut Nyak Dien di Jakarta.
10. Museum Cut Nyak Dhien di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Editor : Aris S



Berita Terkait