Ilustrasi banjir (Foto: Dok. mili.id)
Surabaya, mili.id - Anda perlu waspada dengan penyakit yang ditularkan lewat air banjir.
Curah hujan tinggi, ditambah sanitasi lingkungan belum memadai membuat air luapan yang terjadi akibat banjir biasanya bercampur dengan sampah, kotoran hewan maupun kotoran manusia.
Baca juga: Tinjau Cawang, Gubernur DKI Percepat Pembebasan Lahan untuk Kendalikan Banjir Jakarta
Hal ini yang kemudian menjadi penyebab banyaknya penyakit yang dapat ditimbulkan saat musim hujan tiba.
Dosen Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Vella Rohmayani menyebut, banjir membuat peningkatan jumlah tempat perindukan virus, bakteri dan beragam parasit penyebab penyakit.
Dia mengingatkan parasit inilah yang berperan sebagai vector penularan penyakit.
"Bencana ini dapat menyebabkan kontaminasi pada penyediaan akses air bersih. Kondisi sanitasi lingkungan dan akses penyediaan air bersih tentu sangat mempengaruhi ada tidaknya risiko infeksi penularan penyakit dari berbagai agen infeksius," ungkap Vella, Senin (30/12/2024).
Vella menambahkan, diare merupakan salah satu penyakit yang rentan menyerang saat banjir.
Baca juga: Hujan Empat Jam Guyur Surabaya, Belasan Titik Tergenang hingga Setengah Meter
Kondisi banjir membuat banyak genangan air di mana-mana. Dan hal tersebut menciptakan terjadinya kesulitan untuk mendapatkan akses air bersih untuk keperluan lainnya.
Sehingga sangat rentan terjadi kontaminasi makanan dan minuman.
"Penyakit demam tifoid juga rentan terjadi akibat pencemaran air. Seseorang dapat terserang penyakit ini jika terpapar air yang terkontaminasi oleh bakteri Salmonella typhi," imbuhnya.
Selain diare dan demam tifoid, ada beberapa penyakit lainnya yang rentan menyerang saat musim hujan, yaitu penyakit DBD, malaria, disentri dan kolera.
Baca juga: Banjir dan Longsor Terjang Sigi
Penyakit tersebut dapat ditularkan melalui perantara serangga yang berperan sebagai vector penyakit, seperti nyamuk, kecoa dan lalat.
Mengingat kondisi banjir juga membuat tempat perindukan serangga semakin banyak.
Editor : Narendra Bakrie
