ejumlah siswa tunarungu melihat proses bercocok tanam dengan cara hidroponik. Foto : (nana/mili.id)
Mojokerto - Prohvostu menjadi inovasi pembelajaran anak-anak tunarungu di Kabupaten Mojokerto dalam mengasah vokasional sehingga memiliki kompetensi siap untuk bekerja.
Inovasi Prohvostu ini sendiri merupakan akronim dari perkembangan program vokasional pertanian sistem hidroponik selada organik untuk peserta didik di SLB Kirana Hati Bunda pada 2024.
Di mana media tanam tidak hanya sebatas menggunakan tanah dan air sebagai nutrisi pertumbuhan tanaman, namun bisa juga menggunakan teknik hidroponik.
Yakni memanfaatkan lahan sempit yang ada, dengan penggunaan media tanam air dengan campuran nutrisi A ataupun nutrisi B khusus tanaman hidroponik.
"Era modern seperti saat ini, media tanam hidroponik sangat membantu bagi yang tidak memiliki lahan kosong untuk bercocok tanam. Sehingga lahan yang sempit sekalipun dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran seperti selada organik, bayam, tomat, sawi dan cabai," ujar Ria Desi Natalia pembimbing budidaya hidroponik, Senin (29/7/2024).
Warga Dusun/Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto ini menyebutkan, selain memiliki keuntungan dalam perawatan, metode ini juga memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga dengan inovasi tersebut sesuai dengan karakteristik siswa tunarungu.
Baca juga: Razia Gabungan di Lapas Mojokerto, Tak Ditemukan Narkoba dan Ponsel di Kamar Hunian
"Dengan keterampilan yang diperoleh dari perkebunan hidroponik, tunarungu dapat mengembangkan kemandirian ekonomi mereka. Mereka dapat memproduksi dan menjual hasil pertanian mereka sendiri yang dapat menjadi sumber pendapatan yang stabil dan berkelanjutan," ujarnya.
Sementara, sebagai inisiator Prohvostu untuk siswa tunarungu, Miftakhul mufarrikhah mengaku, inovasi pembelajaran ini bisa memberikan kemampuan untuk memahami dan menghayati apa yang menjadi kebutuhan
pada peserta didik.
Juga diharapkan mampu mengantisipasi perkembangan keadaan dan kebutuhan khusus peserta didik tunarungu kepada kemandirian yang optimal.
"Selain itu juga guru harus mampu membimbing peserta didik tunarungu kepada kemandirian yang optimal," bebernya.
Nantinya, lanjut Miftakhul, setelah program Prohvostu diberlakukan maka akan diperoleh data peningkatan
peranserta seluruh warga sekolah dalam mengelola lahan yang sempit serta
menjadikan lingkungan sekolah yang rindang.
"Apabila progam ini dilanjutkan dalam jangka waktu yang panjang diharapkan akan membudaya karakter baik untuk peduli lingkungan disekolah dan menjadi bekal siswa untuk membuka peluang usaha secara mandiri," pungkasnya.
Editor : Aris S
