Cerita Alumni UC Surabaya Bangun Wisata Bukit Kayoe Putih Mojokerto

Cerita Alumni UC Surabaya Bangun Wisata Bukit Kayoe Putih Mojokerto © mili.id

Founder Wisata Bukit Kayoe Putih, Reynaldi Aryaputra.

Surabaya - Founder Wisata Bukit Kayoe Putih, Reynaldi Aryaputra, sedikit membagikan kisahnya ketika hendak membangun tempat wisata yang berada di wilayah Mojokerto.

Pemuda jebolan Hotel and Tourism Business (HTB) Universitas Ciputra (UC) Surabaya itu memulai proyek tersebut, sejak mengenyam bangku kuliah di semester enam.

Baca juga: PALM PARK Surabaya Hadirkan Staycation Seru Saat Libur Sekolah

Rey mengatakan, tujuan membangun wisata di perbukitan yang dikelola Perhutani ini awalnya untuk menekan angka kriminalitas di daerah tersebut.

"Di daerah Dawar Blandong, Mojokerto, itu dulu terkenal daerah rawan kriminalitas begal. Kriminalitasnya sangat tinggi," ujarnya saat ditemui milikindonesia.id, Jumat (22/11/2024) kemarin.

Sehingga, untuk menekan angka kriminalitas di sana, pemuda lulusan tahun 2023 ini memiliki ide untuk membangun wisata di daerah perbukitan tersebut. Hasilnya, ia mengeklaim bila kriminalitas di sana dapat ditekan.

"Alhamdulillah, (kriminalitas turun) sangat signifikan dan memiliki dampak yang baik untuk masyarakat sekitar," lanjutnya.

Menurutnya, dahulu sebelum dibangun tempat wisata tersebut, tingkat kriminalitas di sana itu tinggi disinyalir berasal dari sangat minimnya penerangan di daerah perbukitan tersebut.

Baca juga: DPRD Surabaya Minta Definisi Pekerja Rentan Segera Diperjelas

"Sekarang, kita dapat support dari Pemkab Mojokerto dan sudah dipasang lampu-lampu PJU itu. Nah jadi lebih aman," ungkapnya.

Apalagi, tempat wisata tersebut beroperasi hingga pukul 21.00 WIB. Bilamana ada event, tempat itu bisa beroperasional hingga pukul 00.00 WIB. Selain itu, segi perekonomian masyarakat setempat juga turut terangkat.

"Saya membangun Bukit Kayoe Putih sejak tahun 2019. Sekarang 2024 total staff kami ada 137, dan 80 persen itu masyarakat sekitar," paparnya.

Dilain sisi, ujung tombak dari wisata tersebut merupakan distilasi minyak dari pohon kayu putih. Sehingga, wisatawan yang berkunjung kebanyakan siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa.

Baca juga: Linimasa yang Sama, Risiko yang Tidak Setara: Teknologi Media dan Bayang KBGO di Indonesia

"Setahu saya, di Indonesia timur yang ada distilasi mulai dari pembibitan sampai jadi minyak kayu putih, adanya hanya di Bukit Kayu Putih," terangnya.

Sementara itu, ada tantangan yang dianggapnya cukup sulit ketika mendirikan wisata ditengah perkebunan pohon kayu putih ini. Saat itu, di sana tidak ada air, lahannya gersang dan tak ada listrik.

"Awalnya keluarga meragukan saya karena faktor tersebut. Tapi saya punya tekad, dan dibantu dari pihak UC juga terutama dosen-dosen dari Hotel and Tourism Business," pungkasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait