Inovasi Robot Batik PKM Unitomo-Untag Surabaya, Harapan Baru Pengrajin Batik Sidoarjo

Inovasi Robot Batik PKM Unitomo-Untag Surabaya, Harapan Baru Pengrajin Batik Sidoarjo © mili.id

Ujicoba robot batik inovasi tim PKM Unitomo kolaborasi dengan Untag Surabaya

Sidoarjo, mili.id - Di sebuah gang sempit di Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, berdiri rumah sederhana yang menjadi pusat kegiatan Industri Rumah Tangga Batik Namiroh. Dari luar, rumah ini tampak seperti hunian biasa. Namun, di dalamnya, suara canting, aroma malam panas, dan tumpukan kain batik menjadi saksi perjuangan para pengrajin melestarikan warisan budaya.

Sayangnya, kondisi rumah produksi masih jauh dari kata ideal. Kayu pembakaran berserakan, pelorot malam berdekatan dengan ruang galeri, dan batik hasil karya belum tertata rapi. “Ruang galeri di ruang tamu sangat sempit, sementara proses canting masih dikerjakan di teras rumah,” tutur Dr. Yoosita Aulia, dosen Unitomo sekaligus ketua tim pengabdian masyarakat.

Baca juga: Pemkab Sidoarjo Banding Putusan PTUN soal Tembok Mutiara Regency, Warga Siap Hadapi Proses Hukum

Keterbatasan itu juga terlihat dari lemahnya kemasan produk. “Selama ini kain batik hanya dilipat dan diikat per lima potong. Branding jadi lemah, harga pun turun,” tambah Dr. Dian Ferriswara, anggota tim yang juga dosen Administrasi Niaga Unitomo.

Melihat kenyataan tersebut, tim dosen Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya berkolaborasi dengan Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya menghadirkan solusi mesin robot motif batik. Program ini berlangsung sejak 9 Juni hingga 17 September 2025 dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – Kemdiktisaintek 2025.

Mesin robot ini hadir bukan untuk menggantikan keterampilan tangan para pengrajin, melainkan mempercepat proses awal pembuatan pola. Dengan ukuran portabel 60 x 100 sentimeter, alat ini bisa menyelesaikan motif dalam hitungan tiga jam—pekerjaan yang biasanya memakan waktu hingga tiga minggu.

“Produksi bisa meningkat 40 persen. Bahkan, alat ini bisa menggambar motif khusus, termasuk logo instansi yang sulit dilakukan manual,” jelas Yoosita.

Baca juga: Pemkab Sidoarjo Genjot Pembebasan Lahan Flyover Gedangan Demi Urai Kemacetan

Menurut Maula Nafi, dosen Teknik Mesin Untag sekaligus anggota tim, inovasi ini tetap menjaga nilai historis batik. “Proses manual seperti canting dan pewarnaan tidak ditinggalkan. Justru dengan bantuan mesin, pengrajin punya waktu lebih untuk berkreasi,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan penuh, tim PKM tak hanya melatih penggunaan mesin, tetapi juga menghibahkan satu unit mesin robot motif batik kepada Batik Namiroh. Harapannya, pengrajin bisa memperluas motif, meningkatkan kualitas kemasan, hingga memperkuat branding produk.

Di tengah keterbatasan ruang dan sumber daya, sinar harapan mulai menyusup ke rumah produksi Batik Namiroh. Dengan kolaborasi antara akademisi dan pengrajin, batik Sidoarjo kini tak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga melangkah menuju masa depan dengan sentuhan teknologi ramah lingkungan.

Baca juga: Pemkab Sidoarjo Genjot Normalisasi Sungai Saat Kemarau, Antisipasi Banjir Sebelum Musim Hujan

Diketahui Tim pelaksana terdiri dari tiga dosen: Dr. Yoosita Aulia, SE., MM., Ak. (ketua tim, dosen Prodi Akuntansi FEB Unitomo), Dr. Dian Ferriswara, SE., MM. (anggota, dosen Prodi Administrasi Niaga FIA Unitomo), dan Maula Nafi, ST., MT. (anggota, dosen Prodi Teknik Mesin Untag).

Mereka juga melibatkan tiga mahasiswa Unitomo: Emylia Mukmillah, Adista Ratih Cahyani Ramadhan, dan Rizqi Lailatul Hasanah.

Editor : Fahrizal Tito



Berita Terkait