Mili.id – Federasi sepak bola dunia, bersama , resmi memperketat aturan kartu merah menjelang . Kebijakan ini diambil sebagai respons atas sejumlah kontroversi besar yang mencoreng kompetisi sepak bola internasional sepanjang tahun ini.
Perubahan aturan tersebut dipicu oleh dua insiden utama. Kasus pertama melibatkan dalam laga Liga Champions, di mana lawannya, , diduga melontarkan hinaan dengan menutup mulut menggunakan jersey. Aksi ini menyulitkan pembuktian dan memicu perdebatan luas, meski tuduhan rasisme tidak terbukti. Namun, sanksi tetap dijatuhkan atas pelanggaran verbal.
Baca juga: Khofifah Raih Pimred Award Berkat Transparansi Informasi Publik Jawa Timur
Insiden kedua terjadi pada final , ketika tim nasional melakukan aksi walk out sebagai protes atas keputusan penalti untuk Maroko. Pertandingan sempat terhenti dan berujung pada keputusan kontroversial yang membuat Senegal kehilangan gelar juara.
Menanggapi hal tersebut, IFAB menetapkan bahwa pemain yang menutup mulut saat berkonfrontasi di lapangan kini berisiko langsung diganjar kartu merah. Aturan ini memberi kewenangan kepada penyelenggara kompetisi untuk menindak tindakan yang dianggap menghambat transparansi atau mengandung unsur provokatif.
Baca juga: Khofifah Optimistis Kopi Jatim Tembus Pasar Global Lewat Hilirisasi
Selain itu, aksi meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes juga akan dikenai sanksi tegas berupa kartu merah, termasuk bagi ofisial tim yang memicu tindakan tersebut. Kebijakan ini bertujuan menjaga kelancaran pertandingan serta menegaskan otoritas wasit di lapangan.
Aturan baru ini disepakati dalam pertemuan khusus IFAB di Vancouver, Kanada, dan akan mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 yang digelar di , , dan mulai 11 Juni 2026.
Dengan regulasi yang lebih ketat, FIFA berharap turnamen empat tahunan ini tetap kompetitif sekaligus menjunjung tinggi nilai sportivitas di tengah meningkatnya tensi pertandingan modern.
Editor : Redaksi
