Mili.id — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan kinerja keuangan positif pada kuartal I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar 43,9 juta dolar Amerika Serikat (AS), meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 32,4 juta dolar AS.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hutabarat, menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan perseroan.
Baca juga: Indosat Catatkan Laba Bersih Rp2,7 Triliun pada Paruh Pertama 2024
“Capaian ini juga menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, pendapatan PGE tercatat sebesar 116,6 juta dolar AS atau naik 14,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan 101,5 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, total aset perseroan mencapai 3,06 miliar dolar AS atau meningkat 0,71 persen dibandingkan posisi akhir 2025. Sementara itu, kas dan setara kas naik 3,72 persen menjadi 745,2 juta dolar AS.
Dari sisi ekuitas, PGE mencatatkan kenaikan dari 2,04 miliar dolar AS pada kuartal I 2025 menjadi 2,09 miliar dolar AS pada kuartal I 2026. Di sisi lain, liabilitas perseroan turun 2,44 persen menjadi 964,7 juta dolar AS, yang dinilai memperkuat struktur modal dan menurunkan risiko keuangan.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa di tengah ketegangan geopolitik dan krisis energi global, transisi energi tetap harus menjadi prioritas.
Baca juga: Indosat Catatkan Laba Bersih Rp1,9 Triliun di Semester I 2023
Menurutnya, kondisi global saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengoptimalkan pengembangan energi panas bumi. PGE, lanjut dia, akan terus mendorong pertumbuhan jangka panjang melalui optimalisasi aset, ekspansi bisnis, serta diversifikasi sumber pendapatan.
“Ke depan, kami akan terus berekspansi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Ahmad.
Sejalan dengan itu, perkembangan sektor energi baru terbarukan (EBT) nasional menunjukkan tren positif. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034, porsi EBT ditargetkan mencapai 76 persen, dengan kontribusi panas bumi sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Untuk mendukung target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Saat ini, perusahaan mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang sebesar 727 megawatt (MW), atau sekitar 70 persen dari kapasitas panas bumi nasional.
Selain kinerja finansial, PGE juga mencatatkan capaian dalam aspek keberlanjutan. Perseroan memperoleh skor ESG tertinggi di Indonesia sebesar 7,1 dari Sustainalytics, serta menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.
Capaian tersebut memperkuat posisi PGE sebagai salah satu pilar utama dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Editor : Redaksi
