Jakarta

Mendagri Tito Dorong Soft Approach untuk Cegah Ekstremisme dan Terorisme

Mendagri Tito Dorong Soft Approach untuk Cegah Ekstremisme dan Terorisme © mili.id

Mili.id – Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mendorong penguatan strategi soft approach dalam mencegah penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme di Indonesia.

Hal itu disampaikan Tito saat menghadiri Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Anti Teror Polri Tahun 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Melawan Terorisme di Era Sunyi: Saatnya MUI Memimpin Perang Narasi

Menurut Tito, upaya pencegahan perlu dilakukan secara kolaboratif, adaptif, dan menyasar akar persoalan, termasuk penyebaran paham radikal di ruang digital.

Ia menjelaskan penyebaran ideologi ekstremisme terjadi melalui pola komunikasi yang melibatkan pengirim pesan, penerima, media penyebaran, hingga kondisi sosial tertentu. Karena itu, pemerintah perlu memutus salah satu rantai penyebaran tersebut agar paham radikal tidak berkembang.

“Kalau kita bisa mematahkan salah satu saja dari lima komponen ini, maka proses pemindahan pesan atau ideologi radikal tidak akan pernah terjadi,” ujar Tito.

Dalam kesempatan itu, Tito menawarkan lima strategi pencegahan yang dapat dijalankan secara paralel, yakni deradikalisasi, kontra radikalisasi, penguatan kontra ideologi, pemutusan saluran penyebaran paham radikal, serta penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, deradikalisasi penting dilakukan terhadap individu yang telah terpapar paham radikal agar kembali pada pemahaman moderat dan mendukung nilai-nilai kebangsaan.

Sementara kontra radikalisasi dinilai perlu diperkuat untuk membangun daya tangkal masyarakat sejak dini terhadap penyebaran ideologi ekstremisme berbasis kekerasan.

Baca juga: 2 ASN di Aceh Ditangkap Densus 88, Diduga Terlibat Jaringan Teroris

Tito juga menekankan pentingnya melibatkan tokoh berpengaruh di lingkungan tertentu dalam memperkuat kontra ideologi agar pesan moderasi lebih mudah diterima masyarakat.

“Kelompok ini memiliki budaya trust insider, tidak percaya orang luar, percaya kepada orang dalam,” katanya.

Selain itu, Tito meminta patroli siber dan kontra narasi di ruang digital diperkuat mengingat penyebaran paham radikal kini semakin cepat melalui berbagai platform media sosial dan teknologi informasi.

Ia menilai penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan jangka panjang, khususnya di wilayah yang rentan terhadap penyebaran ekstremisme.

Baca juga: 27 April 22 Tahun Lalu Bandara Soekarno-Hatta di Teror Bom

Tito mengakui selama ini Densus 88 lebih banyak menjalankan pendekatan penegakan hukum atau hard approach terhadap ancaman aktif. Namun ke depan, strategi pencegahan berbasis soft approach perlu lebih dimaksimalkan.

“Saya tahu bahwa Densus selama ini lebih kepada hard approach. Tapi begitu mereka sudah tiarap, kita harus mulai bombardir dengan kegiatan soft approach,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Tito menyampaikan apresiasi kepada jajaran Densus 88 AT Polri atas upaya menjaga stabilitas keamanan nasional sehingga kondisi keamanan Indonesia dinilai semakin kondusif.

“Saya sangat mengapresiasi kerja dari jajaran Densus selama ini yang sudah dirasakan hasilnya masyarakat di Indonesia lebih tenang dibanding beberapa tahun yang lalu,” tandasnya.

Editor : Redaksi



Berita Terkait