Mili.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada periode Juli hingga September di berbagai wilayah Indonesia. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
BMKG menyebut puncak kemarau pada Juli 2026 akan melanda sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Selanjutnya, pada Agustus 2026, puncak kemarau diperkirakan terjadi di hampir separuh wilayah daratan Indonesia, termasuk sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Sementara itu, pada September 2026, puncak musim kemarau diprediksi masih berlangsung di sejumlah wilayah seperti Sumatera Selatan, Lampung, NTT, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, Maluku Utara, serta kawasan Pegunungan Tengah Papua.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan memiliki durasi lebih panjang dibandingkan rata-rata normal. Kondisi tersebut berpotensi dipengaruhi oleh peluang munculnya fenomena El Nino yang dapat mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain itu, beberapa daerah diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat, di antaranya DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DIY, Bali, NTB, NTT, serta sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.
BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Kesiapan dalam menjaga ketersediaan air bersih, mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, serta menjaga produktivitas sektor pertanian dinilai penting untuk mengurangi dampak musim kemarau yang lebih panjang.
Dengan prediksi tersebut, seluruh pihak diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan melakukan mitigasi agar aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar selama periode kemarau 2026.
Editor : Redaksi
