Banjir Berdampak Ratusan Rumah di Kaki Gunung Raung Tanpa Listrik

Banjir Berdampak Ratusan Rumah di Kaki Gunung Raung Tanpa Listrik © mili.id

Muria (61) warga Dusun Lider saat memberikan tutorial penggunaan lampu tempol kepada wartawan. (Foto: Eko Purwanto)

Banyuwangi - Tercatat rumah 300 kepala keluarga (KK) di Dusun Lider, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi terpaksa menjalani aktivitas tanpa listrik. Hal itu disebabkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) penopang pasokan listrik satu-satunya tak berfungsi secara normal.

Tak berfungsinya PLTA itu disebabkan minimnya pasokan air dari DAM Lider yang jebol diterjang banjir Sungai Kalisetail pada Jumat (7/07) lalu. Kondisi itu turut diperparah oleh patahan kayu dan material pasir yang menumpuk di pintu air sehingga menyumbat pasokan air menuju ruang turbin.

Baca juga: Sedimentasi Ancam Bendungan Wlingi dan Lodoyo, Kapasitas Air Tinggal 40 Persen

Walhasil, kondisi tanpa listrik membuat dusun yang berada di kaki Gunung Raung itu nyaris gelap gulita sewaktu malam. Warga pun terpaksa menggunakan lampu teplok sebagai penerangan alternatif.

"Pakai lampu ublik (lampu teplok) lagi. Sudah hampir empat hari ini gak ada listrik," kata Wagirin (64), warga setempat saat ditemui Mili.Id di rumahnya, Selasa (11/7/2023).

Penggunaan lampu tempol membuat Wagirin serasa kembali bernostalgia di era sebelum PLTA dibangun. Kembali ditemani cahaya penerangan yang dihasilkan oleh lampu berbahan bakar minyak tanah atau kelapa itu.

"Kan dibangunnya (PLTA) tahun 2017 jadi sebelum itu memang sudah biasa hidup tanpa listrik," imbuhnya.

Nostalgia tanpa listrik turut dirasakan Muria (61). Selain penggunaan lampu tempol, Muria mengaku kembali menggunakan tungku kayu untuk keperluan memasak nasi.

"Biasanya pakai rice cooker (mesin penanak nasi) pas ada listrik. Sekarang balik lagi pakai tungku buat masak nasi," kata dia.

Selain memasak nasi, rutinitas menonton hiburan di televisi sementara waktu hilang dari rutinitas Muria. Termasuk terhentinya aktivitas berselancar internet anak cucunya menggunakan jaringan WiFi kampung.

Baca juga: Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi Tetap Lestari, Wujud Syukur Warga Osing atas Sumber Kehidupan

"Anak cucu juga mengeluh internetnya mati. Kan WiFi-nya gak nyala kalau gak ada listrik. Jadi gak bisa melihat hiburan lewat hp," ujarnya.

Perlu diketahui akses internet menggunakan operator seluler di dusun setempat memang sulit. Praktis warga mengandalkan WiFi kampung yang disalurkan oleh perorangan dengan sistem berbayar per bulan.

Disamping warga, pelajar setempat juga tak bisa melakukan aktivitas belajar pada malam harinya. Aktivitas mengaji para santri di Masjid Darussalam pun turut terganggu akibat padamnya listrik.

Pemerintah Desa Sumberarum sendiri telah mengirim bantuan berupa genset untuk Masjid Darussalam. Dengan harapan aktivitas ngaji para santri kembali bisa dilakukan.

"Hari ini sudah kita kirimkan bantuan genset kepada pengurus masjid untuk bisa digunakan sampai pasokan listrik normal kembali," kata Kepala Desa Sumberarum Ali Nurfatoni.

Baca juga: Nini Carlina Comeback di Kampung Halaman, Rilis Lagu Religi “Siti Hajar” Penuh Haru

Toni menambahkan, pihaknya telah meminta bantuan berupa alat berat kepada BPBD Banyuwangi. Guna mengevakuasi potongan kayu dan material tanah yang jadi biang kerok tersumbatnya pasokan air.

Pihaknya turut menggandeng stakeholder terkait dan pihak Perkebunan Bayu Kidul menggalang bantuan tenaga untuk kerja bakti.

"Hari Kamis kita akan lakukan kerja bakti bersama- sama untuk membuat jalur masuknya eskavator menuju titik lokasi," imbuhnya.

Reproter: Eko Purwanto

Editor : Aris S



Berita Terkait