Konser musik inklusi digelar pertama kalinya di Jember (Foto: Hatta/mili.id)
Jember - Konser musik inklusi bertajuk 'Lihat Lebih Dekat' digelar di Cafe Chord Kecamatan Sumbersari, Jember. Event ini digelar pertama kalinya untuk kaum difabel atau anak berkebutuhan khusus (ABK).
Dalam konser Sabtu (27/1/2024) malam itu, menampilkan sekitar 18 ABK, sekaligus memperingati Hari Tuli Nasional 2024.
Baca juga: BNI Sudah Laporkan Kasus KUR Jember 441 M Sejak 2024
Acara ini untuk melatih ABK, agar memiliki rasa kepercayaan diri di tengah masyarakat. Juga mengasah bakat para ABK agar berani tampil di panggung.
"Ini sebagai follow up atas dibukanya kelas dasar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) angkatan pertama. Kemudian lewat event ini, sebagai bentuk sosialisasi dan contoh kepada masyarakat untuk bisa lebih menghargai perbedaan dan menormalisasikan pembauran," terang ketua panitia, Saifuddin Adi Nugroho.
Pria yang juga Juru Bahasa Isyarat di Jember itu menyebut, dengan menampilkan para ABK untuk tampil dengan kemampuan atau bakatnya di bidang musik, menjadi gambaran positif bahwa di balik kekurangan fisik yang dimiliki, mereka juga memiliki bakat yang lebih dibanding manusia normal.
"Bahwa teman-teman dan anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas itu juga bisa. Kita semua setara, sama. Mereka yang tampil, dari teman-teman tunanetra. Bermain berbagai alat musik gitar, drum, bass, ada juga yang autis bermain piano," ujarnya.

"Tidak hanya tampil sendiri. Bahkan mereka yang berkebutuhan khusus juga mampu bermain musik, berkolaborasi, setara dengan anak normal. Selama ini, ABK dianggap remeh. Tapi lewat konser ini, dibuktikan bakat mereka terasah," sambung Adi.
Adi menyebut bahwa konser musik inklusi ini pertama kali digelar di Jember.
"Harapannya ke depan, semoga ada event-event seperti ini, di mana teman-teman non-difabel dan difabel bisa berkolaborasi bersama. Bisa menjalin sebuah ikatan agar tidak ada lagi pembeda," ujarnya.
Baca juga: Kejati Jatim Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi KUR BNI Jember, Kerugian Negara Capai Rp41,4 Miliar
"Untuk pemain biola, mereka berasal dari murid-murid Sekolah Musik Heart Voice, berkolaborasi pemain gitar dan drum, pianis mereka teman-teman difabel," tambah Adi.
Konser yang berlangsung sekitar 3 jam itu membuat para penonton yang hadir kagum. Kemampuan bermusik para penampil menjadi tontonan epik, serta jadi ajang pembuktian antara difabel dan non-difabel bisa saling berkolaborasi.
"Ini kegiatan yang positif yang menurut saya, satu hal kadang-kadang kita sebagai orang umum atau orang awan, ketika melihat saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus. Itu cenderung tanpa kita sadari, melakukan tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan," ungkap salah satu penonton, Erdi Istiaji.
Menurut Erdi, dengan berani tampil dalam konser musik ini, para ABK dilatih percaya diri.
"Perform, secara emosional itu membantu membentuk dirinya agar lebih siap bisa berhadapan dengan masyarakat umum. Sehingga kegiatan ini positif dan saya apresiasi acara ini. Karena inilah dinamika di lingkungan kita, bahwa kita berbeda-beda," ujarnya.
Baca juga: AstonRun 2026 Perkuat Jember Sebagai Destinasi Sport Tourism

"Termasuk kita juga harus aware dengan saudara-sudara kita, mungkin mereka tidak seberuntung kita secara fisik, mental. Tapi dengan adanya kegiatan ini, pasti berkontribusi positif perkembangan sosial emosional mereka. Terutama nanti juga berbekal musik, insyaAllah itu bisa menjadi kemandirian mereka," sambung Erdi.
Berbicara soal seni bermusik, pria yang juga dosen dan profesional psikolog ini menyebut bahwa para ABK itu layaknya artis jadul tunanetra Stevy Wonder dan penyanyi dangdut asal Indonesia Asep Irama.
"Dengan konser musik yang dilakukan ABK ini, berkontribusi positif dan ini bisa dilanjutkan. Semoga tidak sampai berhenti di sini, dikemudian hari ada lagi," tandasnya.
Editor : Narendra Bakrie
